HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Jakarta mengutuk aksi penyiraman air keras kepada Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), di kawasan Jalan Salemba I Talang, Jakarta Pusat pada Kamis (12/3/2026) pukul 23.00 WIB.
Mereka mendesak institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk segera melakukan pemetaan dan menangkap pelaku sekaligus otak di balik percobaan dan pembunuhan terhadap Wakil Koordinator KontraS
“PBHI Jakarta desak Polri untuk segera gerak cepat identifikasi pelaku dan penyelidikan menyeluruh. Sebab, bukan tidak mungkin motif dan dalang di balik penyerangan tersebut mengarah kepada pembungkaman total,” ucap Ketua PBHI Jakarta, Muhammad Ridwan Ristomoyo, Sabtu, 14 Maret 2026, di Sekretariat PBHI Jakarta, Jl, Hang Jebat III, Kebayoran Baru
Ridwan menilai, peristwa keji yang dialami oleh aktivis dan pejuang Andrie Yunus adalah gejala serius dari otoritarianisme.
Menurutnya, apa yang menimpa Wakil Koordinator KontraS tersebut merupakam tindakan represi terukur terhadap aktivis dan pembela HAM dalam upaya memperkecil kritik.
Berdasarkan data 2025 kemarin yang di catat Organisasi Masyarakat Sipil mencatat sebanyak 283 pembela HAM mengalami serangan karena kerja-kerja mereka sepanjang 2025. Antara lain; kriminalisasi, penangkapan, pelaporan ke polisi dan percobaan pembunuhan. Mayoritas dari pembela HAM yang mengalami serangan adalah jurnalis dan masyarakat adat, masing-masing sebanyak 106 dan 74 orang,
“Sekali lagi peristiwa ini adalah alarm bagi aktivis dan pembela HAM. Kita harus mengingat kembali satu tahun Pemerintahan Prabowo kebebasan sipil kian menyusut dan buruk. Ini alarm bagi kehidupan bernegara,” tutup Ridwan.

Sekadar diketahui, bahwa wakil koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, mengalami serangan penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal, demikian pernyataan tertulis Badan Pekerja Kontras yang diterima pada hari Jumat 13 Maret 2026 siang.
Serangan penyiraman air keras itu “mengakibatkan terjadinya luka serius di sekujur tubuh terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata,” kata Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya.
Menurut Dimas, peristiwa tersebut terjadi pada Kamis 12 Maret 2026 malam, sekitar pukul 23.00 WIB di Jalan Talang, Senen, Jakarta Pusat. Saat itu Andrie Yunus baru saja selesai melakukan perekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI), Jakarta.


