HOLOPIS.COM, JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir memicu berbagai spekulasi di ruang digital umat Islam. Serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran bahkan dikabarkan menewaskan tokoh besar Iran, Ayatullah Ali Khamenei.
Situasi tersebut langsung memunculkan berbagai narasi eskatologis di media sosial. Sebagian warganet mengaitkannya dengan kemunculan Imam Mahdi, kedatangan Dajjal, hingga anggapan bahwa dunia telah memasuki fase akhir zaman.
Namun, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengingatkan agar umat Islam tidak tergesa-gesa mengaitkan setiap gejolak politik global dengan tanda-tanda kiamat.
Pandangan tersebut dijelaskan dalam kolom Tanya Jawab Agama di Majalah Suara Muhammadiyah No. 7 Tahun 2009, yang menekankan pentingnya pendekatan teologis yang tenang dan berbasis dalil.
Menurut Muhammadiyah, pembahasan tentang tanda-tanda kiamat harus dimulai dari prinsip dasar akidah bahwa keyakinan harus berdiri di atas dalil yang pasti. Tanpa metodologi yang jelas, isu akhir zaman berpotensi berubah menjadi spekulasi yang mengikuti emosi zaman.
Narasi Imam Mahdi Sering Viral Saat Konflik Timur Tengah
Salah satu narasi yang paling sering muncul setiap kali konflik Timur Tengah memanas adalah kemunculan Imam Mahdi. Dalam berbagai unggahan media sosial, perang besar sering dianggap sebagai tanda kedatangannya.
Majelis Tarjih menjelaskan bahwa konsep Imam Mahdi berkembang kuat dalam tradisi Syiah Imamiyah sebagai harapan politik dan spiritual pada masa penindasan terhadap pengikut Ali bin Abi Thalib.
Meski terdapat sejumlah hadis yang menyebutkan tentang Mahdi, Muhammadiyah menilai riwayat tersebut mayoritas bersifat ahad sehingga tidak cukup kuat untuk dijadikan sebagai keyakinan teologis yang pasti.
Salah satu hadis yang sering dikutip berbunyi:
“Al-Mahdi berasal dari keluargaku, dari keturunan Fatimah.”
Hadis lain juga menyebutkan:
“Seandainya dunia tinggal satu hari, Allah akan memanjangkan hari itu hingga Dia mengutus seorang laki-laki dari keluargaku yang namanya sama dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku.”
Menurut Muhammadiyah, sepanjang sejarah konsep Mahdi juga kerap digunakan sebagai legitimasi politik, mulai dari masa Dinasti Abbasiyah hingga klaim sejumlah tokoh kontroversial di era modern.
Umat Diminta Tetap Rasional dan Fokus Beramal
Dalam pandangan Muhammadiyah, pertanyaan penting yang perlu diajukan bukanlah apakah Imam Mahdi akan muncul dalam konflik saat ini, melainkan mengapa umat Islam sering tergoda membaca peristiwa sejarah sebagai tanda akhir dunia.
Organisasi Islam tersebut menekankan pentingnya keseimbangan antara iman dan rasionalitas dalam menyikapi peristiwa global.
Kiamat diyakini sebagai kepastian dalam ajaran Islam, namun waktunya sepenuhnya berada dalam pengetahuan Allah.
Karena itu, Muhammadiyah mengingatkan bahwa tugas manusia bukan menebak kapan akhir zaman terjadi, melainkan memperbanyak amal, menuntut ilmu, dan terus memperbaiki kehidupan.
Di tengah situasi dunia yang penuh konflik, umat Islam diminta tetap fokus pada ibadah dan kerja nyata, bukan larut dalam spekulasi tentang tanda-tanda kiamat.


