Puluhan Musisi Mundur dari Pestapora 2025 Imbas Isu Freeport

681
0 Shares

JAKARTA – Festival musik Pestapora 2025 tengah jadi sorotan setelah puluhan musisi memutuskan mundur dari line-up. Keputusan itu diambil setelah mencuat isu kerja sama penyelenggara dengan salah satu perusahaan tambang besar yakni PT Freeport Indonesia.

Direktur Pestapora, Kiki Aulia Ucup, menyampaikan permintaan maaf terbuka melalui akun Instagram resmi @pestapora pada Sabtu, 6 September 2025.

Ia menegaskan tidak ada aliran dana yang diterima dari pihak perusahaan tersebut.

“Kami memastikan tak ada sepeser pun aliran dana yang kami terima,” ujar Ucup seperti dikutip oleh Holopis.com.

Ia juga menyebut pihaknya sudah menghentikan kerja sama sejak Jumat malam, 5 September 2025.

“Kami menyadari kelalaian ini dan telah memutus kontrak. Kami juga memastikan tak ada kehadiran pihak tersebut di Pestapora 2025,” lanjutnya.

- Advertisement -

Meski demikian, keputusan sejumlah band dan musisi untuk batal tampil tidak terbendung. The Panturas, yang awalnya berencana tetap naik panggung dengan perasaan bersalah, akhirnya memilih mundur. Mereka menyatakan seluruh keuntungan penjualan merchandise di Pestapora 2025 akan didonasikan untuk masyarakat Papua melalui Walhi.

Banda Neira juga mengumumkan batal manggung pada hari kedua. Dalam pernyataannya, mereka menulis alasan mereka membatalkan penampilan mereka di acara tersebut yang berhubungan dengan hati nurani mereka.

“Kami ingin sikap dan perbuatan kami sehari-hari sesuai dengan apa-apa yang kami lantangkan di panggung. Musik bagi kami itu seperti janji pada diri sendiri, agar apa yang kami lakukan sejalan dengan nurani, dan selalu memikirkan yang tersisih dan terpinggirkan,” tulisnya.

Musisi lainnya seperti .Feast dan Hindia turut menyampaikan kekecewaan dan memutuskan mundur.

“Hanya hitungan jam setelah kita bisa punya harapan sedikit di tengah situasi yang memanas, kita kembali dibuat kecewa. Kami .Feast dan Hindia memutuskan untuk mundur dari Pestapora 2025,” tulis keduanya.

Tidak semua band mengambil langkah serupa. Rebellion Rose asal Bali memilih tetap naik panggung, meski dengan pendekatan berbeda.

Mereka mengembalikan penuh biaya penampilan dan fasilitas transportasi, lalu memanfaatkan kesempatan tampil untuk mengajak penonton berbincang soal kepedulian terhadap sekitar. Setelah itu, mereka melanjutkan dengan sesi akustik sederhana bersama penonton.

Di sisi lain, sejumlah grup lain memilih meninggalkan festival dengan pesan tegas. Kelelawar Malam, misalnya, menuliskan “KAMI MUNDUR DARI PESTAPORA!” disertai seruan solidaritas untuk Papua.

Sementara itu, band Ornament asal Surabaya menegaskan langkah mundurnya sebagai bentuk dukungan bagi mereka yang tertindas, baik di Papua, Palestina, maupun di jalanan.

Hingga Sabtu malam, daftar musisi yang mundur dari Pestapora terus bertambah panjang. Nama-nama yang telah mengumumkan pembatalan antara lain Banda Neira, Hindia, .Feast, The Panturas, Petra Sihombing, Navicula, Sukatani, Rekah, Ornament, Kelelawar Malam, Silampukau, Negatifa, hingga White Chorus.

Situasi ini menjadikan Pestapora 2025 salah satu edisi paling penuh gejolak dalam sejarah penyelenggaraannya, dengan panggung musik yang berubah menjadi ruang pernyataan sikap dari para musisi terhadap isu sosial yang lebih luas.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Fisca Dwi Astuti
Fisca Dwi Astuti
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU