HOLOPIS.COM, JAKARTA – Festival Perahu Naga atau Duanwu Festival menjadi salah satu tradisi budaya tertua yang masih bertahan hingga saat ini. Perayaan yang digelar setiap hari kelima bulan kelima dalam kalender Tiongkok tersebut telah berlangsung selama lebih dari dua milenium dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Tak hanya dirayakan di Tiongkok, festival ini juga berkembang di berbagai negara dengan komunitas Tionghoa yang cukup besar, seperti Singapura, Malaysia, hingga sejumlah kota di Amerika Serikat.
Seiring waktu, Festival Perahu Naga tidak lagi sekadar tradisi lokal, tetapi telah menjadi perayaan budaya yang memadukan sejarah, olahraga, kuliner, dan kebersamaan masyarakat.
Asal-usul festival ini paling sering dikaitkan dengan sosok Qu Yuan, seorang penyair sekaligus pejabat Negara Chu pada Periode Negara-Negara Berperang sekitar 475–221 sebelum Masehi.
Qu Yuan dikenal sebagai tokoh yang setia kepada negaranya. Ketika menyaksikan kemunduran dan kekacauan yang melanda negara yang dicintainya, ia memilih mengakhiri hidup dengan menceburkan diri ke Sungai Miluo.
Peristiwa tersebut memicu duka mendalam di kalangan masyarakat. Mereka bergegas mendayung perahu untuk mencari jasad Qu Yuan dan melemparkan beras ke sungai agar ikan tidak memakan tubuhnya.
Dari tradisi itulah lahir kebiasaan membuat dan menyantap zongzi, makanan khas berupa ketan yang dibungkus daun bambu atau daun alang-alang. Hingga kini, zongzi menjadi salah satu simbol utama Festival Perahu Naga.
Selain kuliner, perlombaan perahu naga menjadi atraksi yang paling dikenal. Tim pendayung berlomba menggunakan perahu panjang yang dihiasi kepala naga sambil mengikuti irama tabuhan genderang.
Lebih dari sekadar kompetisi olahraga, lomba tersebut melambangkan kerja sama, kekompakan, dan semangat kebersamaan dalam masyarakat.
Setiap daerah juga memiliki tradisi unik. Di Tiongkok bagian utara, zongzi manis dengan isian pasta kacang merah lebih populer. Sementara di wilayah selatan, masyarakat cenderung memilih varian gurih seperti daging dan kuning telur asin.
Ada pula tradisi meminum arak realgar yang dahulu dipercaya mampu menangkal penyakit. Masyarakat juga menggantung tanaman seperti mugwort dan calamus di rumah sebagai simbol perlindungan dan kesehatan.
Anak-anak biasanya mengenakan kantong aromaterapi atau scented sachet yang dihiasi benang sutra warna-warni. Selain dipercaya membawa keberuntungan, benda tersebut juga sering menjadi simbol kasih sayang dan perhatian.
Kini Festival Perahu Naga telah berkembang menjadi perayaan global. Kota-kota seperti New York City dan San Francisco secara rutin menggelar lomba perahu naga dan festival budaya yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang.
Pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya tak benda turut memperkuat upaya pelestarian tradisi tersebut. Lebih dari sekadar perayaan tahunan, Festival Perahu Naga menjadi pengingat akan sejarah panjang sekaligus sarana menjaga hubungan sosial dan warisan budaya lintas generasi.

