JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui menyampaikan keprihatinan mendalam atas memburuknya situasi kemanusiaan di Sweida, Suriah, pasca serangan udara yang diluncurkan militer Israel pada Rabu (16/7) waktu setempat.
Melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Indonesia mengecam keras serangan militer Israel yang dianggap sebagai pelanggaran atas kedaulatan Suriah.
“Indonesia sangat prihatin dengan memburuknya situasi di Sweida, Suriah, yang telah mengakibatkan banyaknya korban sipil,” demikian bunyi pernyataan resmi Kemlu RI, dikutip Holopis.com, Kamis (17/7).
“Indonesia mengutuk intervensi militer lsrael yang telah melanggar kedaulatan Suriah,” imbuh Kemlu RI menegaskan.
Serangan udara Israel di Damaskus dan Sweida dalam beberapa hari terakhir memicu eskalasi konflik yang telah menelan korban jiwa, termasuk di kalangan warga sipil.
Pemerintah Suriah menuduh Israel bertanggung jawab atas meningkatnya kekacauan, sementara Israel berdalih sedang melindungi komunitas Druze.
Merespons situasi yang semakin panas, Indonesia menyerukan dilakukannya gencatan senjata permanen antara Pemerintah Suriah dan komunitas Druze.
Pemerintah RI menyatakan komitmennya untuk terus mendukung upaya perdamaian yang ditempuh pemerintah Suriah guna memulihkan stabilitas di seluruh wilayah negara tersebut.
“Indonesia menyerukan gencatan senjata permanen antara Pemerintah Suriah dan komunitas Druze, dan akan terus mendukung upaya pemerintah Suriah untuk mencapai perdamaian di seluruh wilayah Suriah,” lanjut pernyataan Kemlu.
Selain itu, Indonesia menekankan bahwa jalan keluar terbaik dari konflik berkepanjangan di Suriah adalah dialog damai yang inklusif.
“Indonesia menekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui dialog damai dan inklusif, yang melibatkan semua elemen masyarakat Suriah, dengan tetap menjunjung tinggi persatuan nasional dan integritas wilayah Suriah,” tegas Kemlu.
Sebagai tambahan informasi, Sweida kini menjadi titik panas dari konflik bersaudara antara Kelompok Druze dan Arab Badui yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Dengan sekitar 800.000 warga Druze dari total 22 juta penduduk Suriah, wilayah ini menjadi salah satu pusat konsentrasi etno-religius yang rentan terhadap kekerasan bersenjata.
Meski Israel berdalih melindungi komunitas Druze, banyak pemimpin Druze di Suriah menyatakan penolakan terhadap intervensi asing, seraya mendukung solusi damai dan kedaulatan nasional.
Situasi yang terus memburuk di Sweida menjadi tantangan besar bagi stabilitas kawasan, di tengah dinamika politik regional Timur Tengah yang semakin kompleks.


