JAKARTA – Hari Persaudaraan Manusia Internasional diperingati pada 4 Februari. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres lantas menyerukan bahwa masyarakat dunia harus bersatu dalam solidaritas.
Sebelum mengetahui isi pesan dari Antonio Guterres, berikut ini sejarah mengenai Hari Persaudaraan Manusia Internasional :
Sejarah Hari Persaudaraan Manusia Internasional
Hari Persaudaraan Manusia Internasional adalah bagian dari peringatan dalam membangun persatuan di tengah perbedaan ras, agama, hingga kasta.
Awal mula adanya Hari Persaudaraan Manusia Internasional itu sendiri, karena buntut dari perpecahan global yang semakin meluas.
Kondisi tersebut disorot betul oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Syekh Ahmad Al-Tayyeb. Kemudian keduanya menyusub sebuah dokumen penting yang tuntas dalam kurun waktu enam bulan.
Dokumen tersebut kemudian dikenal sebagai Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama.
Dokumen yang selesai selama enam bulan tersebut kemudian diresmikan pada 2019 ketika Paus berkunjung ke Uni Emirat Arab.
Terkait hal itu pula, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhirnya mendukung penuh usulan adanya peringatan hari besar Hari Persaudaraan Manusia Internasional.
PBB kemudian menetapkan bahwa Hari Persaudaraan Manusia Internasional jatuh pada 4 Februari di setiap tahunnya.
Pesan Sekjen PBB Antonio Guterres kepada dunia dalam momen peringatan Hari Persaudaraan Manusia Internasional
“Pada hari internasional persaudaraan manusia ini, kami merayakan nilai-nilai kesetaraan, persatuan, dan saling menghormati.”
“Namun hari ini, di seluruh dunia, kita melihat gelombang diskriminasi, xenofobia, dan intoleransi membuat orang terpisah dan memecah jalinan masyarakat.”
“Adalah tugas kita semua, termasuk para pemimpin agama, untuk mencari dialog atas pembagian, dan menghadapi kebencian di mana pun kita menemukannya, sebelum itu terjadi dan menyebar.”
“Deklarasi ‘Persaudaraan Manusia untuk Kedamaian Dunia dan Hidup Bersama’-yang ditulis bersama oleh Yang Mulia Paus Fransiskus dan Yang Mulia Imam Agung Al-Azhar Sheikh Ahmed El-Teyeb-adalah cetak biru untuk harmoni antaragama dan koeksistensi damai. Ini adalah pengingat yang kuat bahwa komitmen bersama kita terhadap hak asasi manusia dan martabat adalah fondasi masa depan yang lebih baik bagi semua.”
“Terinspirasi oleh deklarasi ini, mari kita kenali bahwa kita adalah satu keluarga manusia – kaya akan keragaman, setara dalam martabat dan hak, dan bersatu dalam solidaritas.”
“Bersama -sama, kita dapat membuka jalan bagi dunia yang lebih damai, inklusif, dan adil untuk semua orang.”


