HOLOPIS.COM, JAKARTA – Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR), Nurlia Dian Paramita aias Mita mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk memilah dan memilih informasi yang masuk ke mereka, baik melalui sistem konvensional yakni mulut ke mulut atau selebaran, maupun melalui sistem digital baik itu dari website maupun platform digital lainnya.
“Masyarakat jangan kemudia menelan berita mentah-mentah yang viral. Sekarang kan kelemahan kita viral ini langsung diangap benar, viral dianggap valid,” kata Mita kepada Holopis.com, Selasa (12/12).
Ia mengingatkan bahwa semua konten viral sekalipun bombastis, tidak selalu memuat informasi benar. Bahkan tak sedikit juga yang berisi narasi provokasi dan hoaks.
Padahal viral itu kan juga bisa berita yang sifatnya hoaks, berita yang sifatnya adu domba, berita yang tidak produktif, kan mungkin ya viral itu,” ujarnya.
Oleh sebab itu, literasi digital sangat penting dimiliki oleh masyarakat Indonesia di tengah perkembangan teknologi informasi.
“Jadi kita harus betul-betul bisa mengukur berita yang kita terima, kita harus betul-betul mengukur, oh ini nggak mutu nih beritanya,” tuturnya.
Materi Kampanye
Lebih lanjut, Mita menyamaikan bahwa dalam menyajikan konten kampanye, para timses seharusnya tidak hanya sekadar mengdepankan sisi entertainment belaka, namun mengaburkan substansi dari konten.
“Kalau kemudian kampanye hanya ditonjolkan simbolik, ya kan saya dapat apa?. Meskipun kemudian kampanye harus gembira, tapi jangan kemudian muatan yang ditampilkan oleh paslon atau caleg itu justru yang receh-receh. Karena yang receh-receh dia itu belum tentu benar-benar setia sama kita,” tandasnya.
Kemudian, Ketua Bidang Organisasi Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiah (PPNA) 2016-2020 ini pun mengatakan, bahwa di dalam menyajikan konten kampanye, timses dan masing-masing peserta pemilu harus juga mengedepankan ide gagasannya, sehingga apa yang menjadi pemikiran mereka bisa ditangkap dan dicerna dengan baik oleh para pemilih dan konstituennya.
“Program itu kan kemudian digagas dengan ada tahapan, tidak kemudian dia katakanlah bercerita akan membuka lapangan pekerjaan. Tentu kan harus dibuktikan lapangan pekerjaannya di mana, sejauh mana kemudian kebutuhan masyarakat di sana, tingkat pengangguran seperti apa, atau kemudian aksesibel nggak kalau dari sisi kita,” tutur Mita.
Lalu, Mita juga menyarankan agar para kandidat juga mengukur baju dengan baik sehingga gagasan dan ide program yang ditawarkan tidak seakan menjadi angin surga semata, namun benar-benar bisa direalisasikan dengan baik.
“Jadi jangan kemudian ada program yang seakan-akan hebat, tapi dalam meneruskan kepada masyarakat itu sulit. Secara program mungkin wah hebat nih, tapi apakah masyarakat bisa,” paparnya.
Itulah beberapa paparan Mita bagaimana caranya agar Pemilu 2024 bisa berjalan dengan baik dan sukses.
“Kalau mensukseskannya ya itu menurut saya, harus selektif untuk memilih dan juga tidak menyebarkan berita bohong,” pungkasnya.


