Artinya, tanah yang retak tidak otomatis menandakan suatu wilayah telah berubah menjadi gurun.
Untuk mengetahui penyebabnya, karakteristik tanah dan kondisi lingkungan di lokasi harus diperiksa terlebih dahulu.
Kemiripan visual dengan kawasan kering di Afrika memang bisa membuat siapa pun terkejut.
Namun, penampakan yang serupa belum tentu menunjukkan bahwa proses lingkungan yang terjadi juga sama.
Widiatmaka menegaskan, retakan tanah di Dusun Limus belum bisa dijadikan bukti bahwa Kalimantan sedang mengalami penggurunan.
“Lebih tepat menyebutnya menyerupai tanah retak di kawasan kering Afrika, bukan bukti bahwa lahan di Kalimantan telah berubah menjadi gurun,” jelasnya, dikutip dari situs resmi IPB University.
Dengan demikian, dugaan bahwa fenomena tersebut disebabkan oleh kekeringan ekstrem atau perubahan iklim juga tidak bisa langsung dibenarkan.
Data curah hujan, kondisi air di sekitar lokasi, serta riwayat perubahan lingkungan diperlukan untuk mengungkap penyebab sebenarnya.
Selain faktor alam, aktivitas manusia berpotensi mengubah kelembapan dan tata air suatu kawasan.
Pembukaan lahan, misalnya, dapat mengurangi tutupan vegetasi sehingga permukaan tanah lebih terpapar panas.
Perubahan drainase dan pengambilan air juga bisa memengaruhi ketersediaan air di dalam tanah.
Sementara itu, kegiatan pertambangan berpotensi mengubah kondisi hidrologi dan kestabilan lahan, bergantung pada aktivitas yang berlangsung.
Meski demikian, Widiatmaka mengingatkan bahwa keterlibatan aktivitas manusia dalam fenomena di Dusun Limus belum terbukti.



