Karena itu, menunjuk pertambangan, pembukaan lahan, atau perubahan iklim sebagai penyebab utama tanpa bukti lapangan justru berisiko menyesatkan.
Lantas, kapan tanah retak perlu diwaspadai? Menurut Widiatmaka, retakan tidak selalu menunjukkan ancaman lingkungan yang serius.
Namun, kondisinya patut diteliti apabila muncul berulang, semakin meluas, disertai penurunan permukaan tanah, kematian vegetasi, atau berkurangnya sumber air.
Pemeriksaan lapangan diperlukan untuk mengetahui kondisi tanah, ketersediaan air, sistem drainase, dan perubahan penggunaan lahan di sekitarnya.
“Retakan saja belum cukup untuk menyimpulkan adanya ancaman serius. Kondisi tanah, air, dan penggunaan lahannya perlu diperiksa terlebih dahulu,” pungkasnya.
Fenomena di Kalimantan Barat ini menjadi pengingat bahwa penampakan alam yang mengundang perhatian perlu dijelaskan dengan data, bukan sekadar dugaan.
Tanah boleh terlihat seperti hamparan gurun Afrika, tetapi penyebab di balik retakannya masih harus diungkap melalui penelitian lebih lanjut.



