Rekaman tersebut memperpanjang polemik mengenai penanganan antrean BBM di Bali.
Sebab, sebelum pemilik SPBU menyampaikan keluhannya, Koster lebih dahulu menjadi sorotan setelah beradu argumen dengan seorang operator SPBU di Jalan Diponegoro, Denpasar, pada Rabu malam (14/10/2026).
Dalam kejadian sebelumnya, seorang operator SPBU menangis ketika mengungkapkan kelelahan akibat harus terus melayani konsumen di tengah antrean BBM.
“Saya bukan robot, saya juga capek, Pak,” ujar pegawai tersebut.
Keluhan itu menggambarkan tekanan yang dihadapi pekerja ketika antrean terus berdatangan, sementara waktu istirahat dan tenaga mereka terbatas.
Dalam rekaman yang beredar, Koster meminta pegawai tersebut diam dan menyuruh agar dirinya diusir.
Sikap itu menuai kritik karena dinilai tidak menunjukkan respons yang diharapkan sebagian warganet terhadap pekerja yang sedang mengeluhkan kelelahan.
Koster juga sebelumnya meminta petugas SPBU tetap melayani konsumen meskipun kondisi fisik mereka sudah lelah.
“Enggak usah, jangan ngeluh. Layani konsumen. Walaupun capek, ya layani. Enggak boleh merasa capek,” kata Koster.
Pernyataan tersebut kembali dipersoalkan setelah muncul pengakuan mengenai terbatasnya jumlah pekerja dan kebutuhan bantuan tambahan di lapangan.
Ariskaa Novitha Sari turut mengungkapkan pengalaman lembur operator SPBU melalui media sosial.
Ia menceritakan pekerja yang bertugas sejak pukul 14.00 hingga sekitar pukul 00.30, lalu kembali melayani konsumen sampai pukul 07.00 pagi.
Kondisi itu disebut memangkas waktu istirahat, kesempatan makan, hingga waktu bersama keluarga.



