Pada ukuran lain, Dedi Mulyadi mendapat skor 6.7 untuk kapabilitas atau kompetensi, 6.8 untuk komitmen pada politik luar negeri bebas aktif, dan 6.5 untuk komitmen pada profesionalisme TNI-Polri.
Mujani menyatakan, Mahfud secara umum dinilai terbaik dengan skor paling tinggi dari berbagai kategori. Sementara Dedi Mulyadi terbaik dilihat dari kedekatan penilaian opinion leaders dan penilaian massa pemilih dari survei nasional.
“Sementara di antara ketua Partai, Agus Harimurti Yudhoyono terbaik dan di antara kader partai ada Basuki Tjahaja Purnama. Untuk politisi yang punya jabatan dengan skor terbaik adalah Pramono Anung, dari intelektual publik independen dan tidak pernah menjadi pejabat publik Zainal Arifin Mochtar, dan terbaik di antara tokoh perempuan Sri Mulyani. Ini tokoh-tokoh alternatif,” papar Guru Besar Ilmu Politik UIN Syarief Hidayatullah Jakarta ini.
Melihat survei ini, Guru Besar Fakultas Hukum UI, Todung Mulya Lubis menilai, partai gagal dan defisit melakukan kaderisasi pemimpin demokratik.
“Maka yang muncul nama-nama di luar kader utama partai dalam survei opinion leaders ini,” katanya.
Diketahui, survei ini melibatkan 200 opinion leader, terdiri atas 166 akademisi/ilmuwan dari berbagai bidang (politik/pemerintahan, filsafat/sejarah/agama/budaya, sosiologi/antropologi, ekonomi/pembangunan, sains/teknik, komunikasi, hukum, dan psikologi) serta 34 jurnalis.
Karena tidak ada daftar populasi opinion leader secara nasional, responden tidak dipilih secara acak, melainkan dengan teknik snowballing, terutama melalui media massa nasional dan daerah.
Karena itu, temuan survei ini bersifat deskriptif: mencerminkan penilaian para responden, bukan populasi opinion leader secara keseluruhan. Sebanyak 149 responden bersedia namanya dipublikasikan. Responden menilai 31 tokoh dengan skor 0 sampai 10.



