HOLOPIS.COM, JAKARTA – Guru besar Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN Jakarta), Prof Saiful Mujani menegaskan bahwa ada 9 (sembilan) aspek penting yang bisa menjadi tolok ukur seseorang pantas menjadi pemimpin, termasuk sebagai Presiden dan Wakil Presiden.
Hal ini disampaikan Mujani saat diskusi publik dan rilis survei opinion leaders kepemimpinan nasional demokratik transformatif di FISIP UIN Jakarta, Kamis (15/10/2026).
“Jadi ada 9 tolok ukur untuk menilai studi opinion leaders kita ini. Dari 9 tolok ukur itu kita validasi,” kata Saiful Mujani.
Kesembilan tolok ukur itu antara lain ; pertama adalah kapabilitas atau kompetensi. Ini mencakum kemampuan secara umum karena pengetahuan atau wawasan yang luas. Kemudian ditopang oleh tingkat pendidikan yang memadai, kecerdasan atau kepintaran, pengalaman dan lain sebagainya.
Kedua adalah empati. Saiful Mujani menyebut seseorang yang pantas menjadi pemimpin harus memiliki rasa peduli dan perhatian yang tinggi kepada orang lain. Ia harus benar-benar bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, serta dapat menempatkan diri pada posisi orang lain.
Tolok ukur ketiga adalah integritas. Kunci seorang pemimpin harus berintegritas, di mana ia memiliki tingkat kejujuran yang baik, konsisten atau selaras antara ucapan dan tindakannya, tidak memiliki cacat moral dan hukum.
“Apakah dia punya integritas?. Integritas itu bisa dipegang kata-kata dan perbuatannya, tidak hanya omong, bersih dari cacat moral dan hukum,” ujarnya.
Keempat adalah akseptabilitas. Seorang pemimpin harus bisa diterima kehadirannya oleh masyarakat. Menurut Saiful Mujani, sosok tersebut dinilai publik sangat menyenangkan, tidak sombong dan angkuh, mampu berdiri di atas kepentingan semua golongan.
Kelima adalah Pluralis yang inklusif. Sosok pemimpin nampu menerima keragaman berbagai latar belakang masyarakatnya, baik dari aspek suku, agama, ras, kelas dan antar golongan. Termasuk juga terhadap perbedaan orientasi seksual.
Keenam adalah komitmen pada demokrasi. Saiful mengatakan bahwa sosok pemimpin adalah yang mampu dan mau mendengarkan apa yang menjadi suara masyarakat baik saran maupun kritik, bisa menghormati dan mendukung mebebasan berbicara, berkumpul, kebebasan pers, kebebasan akademik. Mendukung pemilihan umum yang jujur dan adil, serta mampu melindungi hak-hak minoritas.
Ketujuh adalah komitmen pada kesejahteraan umum. Pendiri lembaga survei SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting) tersebut menjelaskan bahwa sosok pemimpin harus mampun bebuat kebijakan yang pro terhadap hak-hak dasar setiap warga negara, serta melaksanakannya. Kebijakan tersebut menyangkut hak pekerjaan, sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, serta jaminan pensiun.
Kedelapan adalah komitmen pada profesionalisme angkatan bersenjata dan polisi. Serta yang kesembilan adalah komitmen pada politik luar negeri bebas aktif.
Namun dari kesembilan tolok ukur tersebut, Saiful Mujani menyampaikan bahwa pendapat para responden atau narasumber yang menilai, integritas menjadi aspek yang paling penting dimiliki oleh sosok pemimpin dalam konteks kualitas personal.



