Langkah antisipasi dapat mencakup pengaturan jadwal tanam berdasarkan prakiraan iklim, optimalisasi sumber air, perbaikan jaringan irigasi, serta pendampingan kepada petani di daerah rawan kekeringan.
Pemantauan berkala diperlukan agar kebijakan dapat disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.
Peringatan mengenai risiko cuaca ekstrem juga disampaikan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, yang menyoroti kenaikan suhu permukaan laut dan temperatur global.
Bagi Indonesia, tantangan utamanya kini adalah memastikan informasi ilmiah benar-benar diterjemahkan menjadi tindakan pencegahan.
Dengan potensi puncak Super El Nino diperkirakan terjadi pada November-Desember 2026, kesiapan menghadapi kekeringan dan karhutla menjadi semakin penting.
Sebab, keberhasilan mitigasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa dini ancaman diprediksi, tetapi juga seberapa cepat dan tepat langkah antisipasi dijalankan.



