Presiden Iran Tegaskan Tak Akan Tunduk di Tengah Ancaman Trump

0 Shares
Ukuran text:
21
Dengarkan Berita:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyerah di tengah perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel serta meningkatnya tekanan dari pemerintahan Presiden Donald Trump.

Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian saat berpidato di hadapan para pemimpin dunia dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Dalam pidatonya, Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan mengalah terkait program nuklir, sistem pertahanan rudal, maupun kendalinya atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang selama ini menjadi salah satu jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.

“Kita tidak dapat membiarkan sebagian pihak memiliki akses bebas dan memperoleh keuntungan dari jalur perairan, sementara pada saat yang sama menggunakan jalur tersebut untuk melakukan agresi terhadap kami, menciptakan ketidakamanan bagi kami, dan melarang kami mengakses perairan kami sendiri,” kata Pezeshkian, dikutip Holopis.com, Kamis (24/9).

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump sebelumnya melontarkan ancaman keras terhadap Iran. Trump juga mengklaim Amerika Serikat telah menghancurkan sejumlah fasilitas nuklir Iran serta menyatakan bahwa negaranya telah menguasai Selat Hormuz.

Dalam pidatonya di forum yang sama, Trump bahkan mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk “melenyapkan Republik Islam” dan mendorong Iran “ke dalam neraka”.

Iran Bicara soal Keamanan Regional

Selain menyampaikan sikap terhadap Amerika Serikat, Pezeshkian juga membawa pesan kepada negara-negara tetangga Iran.

Ia menegaskan bahwa keamanan Iran harus menjadi bagian dari keamanan kawasan secara keseluruhan. Menurutnya, jika keamanan Iran tidak terjamin, negara-negara di kawasan juga akan menghadapi situasi yang tidak aman.

Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, Sanam Vakil, menilai pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai pesan bahwa tekanan terhadap Iran berpotensi membawa dampak terhadap negara-negara lain di kawasan.

“Iran sedang memandang keamanan regional sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, sekaligus memberi sinyal bahwa tekanan dan konflik yang terus berlanjut akan menimbulkan konsekuensi di seluruh kawasan,” kata Vakil.

Sementara itu, analis senior International Crisis Group, Hamidreza Azizi, melihat pesan tersebut dari sisi lain. Menurutnya, sikap Pezeshkian juga menunjukkan bahwa Iran memahami pentingnya membangun hubungan yang dapat berjalan berdampingan secara damai dengan negara-negara tetangganya.

Iran Buka Ruang Diplomasi dengan AS

Pidato Pezeshkian berlangsung sehari setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan pembicaraan selama sedikitnya dua jam dengan utusan perdamaian Trump, Steve Witkoff, di New York.

Pertemuan tersebut menjadi salah satu tanda adanya kembali jalur diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat setelah rencana perundingan lanjutan yang disusun pada Juni tidak berlanjut dan konflik justru kembali meningkat.

Namun, langkah diplomatik tersebut juga mendapat sorotan dari kelompok garis keras di dalam Iran.

Anggota parlemen Iran dari kelompok garis keras, Ebrahim Rezaei, mempertanyakan dasar kewenangan Araghchi untuk bertemu dengan perwakilan Amerika Serikat.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Darin Brenda Iskarina
Tim Penulis & Editor
Darin Brenda Iskarina
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU