HOLOPIS.COM, JAKARTA – Serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi asal Yaman menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10). Insiden tersebut menewaskan sedikitnya 12 orang dan menyebabkan 309 lainnya mengalami luka-luka.
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi melaporkan bahwa korban tewas terdiri dari empat warga negara Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan. Sejumlah korban luka dilaporkan berada dalam kondisi kritis dan mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Serangan tersebut menjadi insiden ketiga yang menyasar bandara internasional itu dalam sepekan. Skala serangan kali ini juga menjadikannya salah satu serangan paling mematikan terhadap Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Kesaksian penumpang menggambarkan situasi mencekam di lokasi kejadian. Seorang pelancong yang terluka mengatakan melihat sesuatu melintas di langit sebelum sebagian plafon di dekat gerbang keberangkatan runtuh. Saksi lainnya mengaku mendengar ledakan sebelum melihat sejumlah orang tergeletak dalam kondisi terluka.
Otoritas penerbangan kemudian menghentikan sementara operasional bandara dan mengalihkan penerbangan yang menuju Riyadh. Sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada, juga mengeluarkan peringatan kepada warganya agar menghindari bandara tersebut.
Kelompok Houthi, yang didukung Iran, meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi di tengah kembali memanasnya konflik di Yaman. Kelompok tersebut menyatakan melalui media sosial bahwa mereka telah menghentikan operasional Bandara Internasional Riyadh. Houthi juga memperingatkan maskapai internasional agar tidak melintasi wilayah udara Saudi karena menganggapnya sebagai zona operasi militer.
Situasi ini memperlihatkan tantangan pertahanan yang dihadapi Arab Saudi. Kerajaan tersebut tengah menjalankan kampanye serangan udara untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam pertempuran melawan Houthi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut serangan di Riyadh sebagai tindakan yang mengerikan. Ia juga mengatakan akan berbicara dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menyusul insiden tersebut.
“Saya pikir itu mengerikan,” kata Donald Trump, dikutip Holopis.com, Minggu (11/10).
Saat ditanya apakah Amerika Serikat akan bergabung dalam serangan militer Saudi terhadap Houthi, Trump tidak menutup kemungkinan tersebut.
“Kami mungkin akan melakukannya. Kami akan mempertimbangkannya. Kami baru saja mengetahui serangan terbaru ini, jadi kami akan mengambil keputusan. Kami bergerak sangat cepat,” ujarnya.
Pernyataan Trump mengindikasikan bahwa Washington tengah mempertimbangkan keterlibatan militer lebih jauh dalam konflik tersebut. Houthi merupakan kelompok bersenjata yang didukung Iran, negara yang selama ini menjadi rival utama Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut mengecam serangan tersebut. Ia mengonfirmasi bahwa seorang warga negara Amerika Serikat termasuk di antara korban tewas dan menilai serangan itu menunjukkan pengabaian terang-terangan terhadap keselamatan warga sipil yang tidak bersalah.



