Pezeshkian juga menghadapi kritik karena menghadiri pertemuan diplomatik di New York. Kelompok yang menentang pendekatan tersebut khawatir setiap sinyal kompromi akan dianggap sebagai bentuk kelemahan Iran.
Iran Tetapkan Syarat untuk Negosiasi
Di tengah berlangsungnya diplomasi, pejabat keamanan Iran justru menyampaikan sikap yang lebih keras terkait kemungkinan perundingan dengan Washington.
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan bahwa Iran akan menggunakan kerangka baru dalam setiap pembicaraan dengan Amerika Serikat.
Menurut Rezaei, Washington harus mengambil langkah pertama sebelum negosiasi dapat kembali dilakukan.
“Di bawah kerangka baru ini, era retorika dan negosiasi hanya demi negosiasi telah berakhir. Setiap pembicaraan di masa depan, atau pembukaan kembali Selat Hormuz, akan bergantung pada pelaksanaan penuh persyaratan Iran oleh Washington sebagai prasyarat,” kata Rezaei.
Pernyataan tersebut dinilai tidak hanya ditujukan kepada pemerintah Amerika Serikat, tetapi juga dapat menjadi upaya untuk meredakan kekhawatiran kelompok garis keras Iran terhadap para pejabat yang sedang melakukan diplomasi di New York.
Namun, ketika Iran menjalankan diplomasi di PBB dan menyampaikan pesan mengenai kemungkinan hidup berdampingan dengan negara-negara di kawasan, situasi di sekitar Selat Hormuz kembali memanas.
Oman Maritime Security Center melaporkan sebuah kapal menjadi sasaran serangan di dekat Selat Hormuz yang menyebabkan satu orang meninggal dunia.
“Sejumlah kapal disarankan untuk berlayar dengan hati-hati,” demikian peringatan dari UK Maritime Trade Operations (UKMTO).



