Blok ekonomi tersebut merepresentasikan sekitar 49 persen populasi dunia dan 40 persen produk domestik bruto (PDB) dunia. Dengan kekuatan sebesar itu, BRICS dinilai punya ruang besar untuk meningkatkan investasi sekaligus memperkuat sektor industri.
Langkah tersebut diharapkan bisa membuka lebih banyak lapangan kerja dan memberikan peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Menurut Prabowo, negara-negara BRICS sebenarnya sudah memiliki modal penting berupa sumber daya dan kekuatan ekonomi yang saling melengkapi.
Tantangannya kini adalah bagaimana kekuatan tersebut bisa disambungkan.
“BRICS pada dasarnya sudah memiliki rantai pasok. Tugas kita adalah menghubungkan dan mengoptimalkannya, sehingga kekuatan yang sudah kita miliki ini dapat menghasilkan nilai yang lebih besar bagi kita semua,” imbuh Prabowo.
Empat Pilar KTT BRICS
KTT BRICS ke-18 sendiri mengangkat empat pilar utama, yakni ketahanan (resilience), inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan (sustainability).
Keempat pilar tersebut menjadi bagian dari upaya BRICS merespons berbagai tantangan global, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik dan gangguan terhadap rantai pasok.
Perdana Menteri India Narendra Modi dalam forum yang sama juga menyinggung sejumlah krisis yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Pandemi, bencana akibat perubahan iklim hingga gangguan rantai pasok, menurut Modi, menunjukkan bahwa dunia saat ini semakin terhubung.
Karena itu, sebuah krisis yang terjadi di satu wilayah dapat dengan cepat memberikan dampak ke berbagai negara lain.
Presiden Tiongkok Xi Jinping juga menyerukan agar BRICS ikut menjaga stabilitas rantai industri dan rantai pasok global.
Seruan tersebut disampaikan di tengah gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz yang disebut berkaitan dengan perang Amerika Serikat-Iran.
Bagi Prabowo, situasi tersebut memperlihatkan pentingnya negara-negara berkembang membangun kerja sama ekonomi yang lebih kuat, terutama dalam mengamankan industri dan rantai pasok di tengah ketidakpastian global.




