Kondisi Shipilova kemudian diberitakan sejumlah media sebagai dugaan pes paru.
Namun, bagian pentingnya adalah status tersebut belum dikonfirmasi oleh otoritas Rusia.
Rospotrebnadzor, lembaga pengawas kesehatan Rusia, menyatakan penyebab pneumonia yang dialami Shipilova belum diketahui.
Lembaga tersebut juga menyebut tidak terdapat catatan insiden mikroorganisme patogen di institut tempat korban bekerja.
Karena itu, dugaan pes masih harus dibedakan dari fakta yang telah dikonfirmasi secara resmi.
Untuk mencegah kemungkinan risiko meluas, orang-orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan korban turut mendapatkan pemantauan medis, jumlahnya hampir mencapai 200 orang.
Menurut Gubernur Irkutsk Igor Kobzev, orang-orang yang berada dalam pengawasan tersebut tidak memperlihatkan gejala.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan juga menunjukkan hasil negatif.
Situasi tersebut masih menjadi perhatian karena penyebab penyakit pada korban belum mendapatkan kepastian resmi.
Indonesia pun mengambil langkah berjaga-jaga dengan memperkuat sistem deteksi di pintu masuk internasional.
Salah satu mekanisme yang digunakan adalah deklarasi kesehatan bagi pelaku perjalanan luar negeri melalui All Indonesia-SATUSEHAT Health Pass (SSHP).
Informasi tersebut kemudian menjadi bagian dari pemeriksaan petugas karantina kesehatan.
Petugas akan memperhatikan riwayat perjalanan seseorang, termasuk kemungkinan berasal dari wilayah yang sedang menghadapi kejadian penyakit menular.



