HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn) Prof. Dudung Abdurachman meminta penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilakukan sesegera mungkin. Dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, juga menjadi perhatian pemerintah.
Hal itu disampaikan Dudung saat mengunjungi Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Dudung menerima laporan Kepala BNPB Suharyanto mengenai perkembangan penanganan karhutla sekaligus meninjau media center BNPB untuk melihat pemantauan titik api dan penanganan di sejumlah daerah.
“Ini menjadi konsentrasi Bapak Presiden bahwa penanganan ini harus sesegera mungkin,” ujar Dudung.
Dudung mengatakan, pemerintah akan segera melakukan rapat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait serta meninjau sejumlah daerah terdampak karhutla.
“Dalam waktu dekat saya akan melaksanakan rakor dengan kementerian yang terkait, khususnya masalah karhutla. Karena memang betul salah satu dampaknya itu sekarang kepada masalah kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak,” katanya.
Sementara itu, Kepala BNPB Suharyanto memastikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak terus dimaksimalkan melalui koordinasi dengan Kementerian Kesehatan.
“Kami terus mengerahkan segala kemampuan yang ada, berkoordinasi juga dengan Kementerian Kesehatan. Atas saran Bapak Menko, setiap permasalahan kesehatan masyarakat terdampak, ini kami maksimalkan untuk pelayanan kesehatan,” ujar Suharyanto.
Suharyanto melaporkan, saat kunjungan berlangsung terdapat 186 hektare lahan yang masih dalam proses pemadaman di enam provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Sebagian kebakaran terjadi di lahan gambut sehingga membutuhkan penanganan lebih intensif. Selain itu, BNPB mencatat 13 kejadian karhutla dengan luas sekitar 400 hektare di sejumlah wilayah lain.
Menurut Suharyanto, kebakaran di wilayah tersebut relatif lebih mudah dipadamkan karena umumnya terjadi di lahan mineral.
Kondisi karhutla masih menjadi perhatian, khususnya di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Asap tebal di sejumlah wilayah bahkan mengganggu aktivitas penerbangan.
Suharyanto menjelaskan, karakteristik lahan gambut membuat titik api dapat kembali muncul meski sebelumnya telah dipadamkan.



