HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar menjelaskan tentang keutamaan niat dalam berpuasa. Hal itu disampaikannya saat menjadi penceramah pada malam pertama Salat Tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Jumat (28/2).
Dia menuturkan, bahwa setiap amal ibadah harus disertai dengan niat, termasuk dalam beribadah puasa.
“Kalau puasa tanpa niat itu diet, kalau sholat tanpa niat itu olah raga. Inti dari setiap ibadah itu adalah niat. Kalau kita lupa berniat, ini persoalan dalam ibadah kita,” terang Menag, seperti dikutip Holopis.com, Sabtu (8/3).
Menag yang juga Imam besar Masjid Istiqlal mengingatkan seluruh umat muslim yang melaksanakan puasa untuk memperbaiki niatnya dengan baik. Dalam pendekatan Fiqh, setiap ibadah itu tetap diminta untuk berniat.
“Konsep niat berpuasa menurut Imam Syafi’I, niat berpuasa dilakukan pada malam harinya, jangan biasakan pas sahur, itu sudah pagi. Setiap malam kita harus berniat berpuasa,” katanya mengingatkan.
Selain itu, lanjut Menag, ada juga pendapat Imam Mazhab lainnya, yakni Imam Abu Hanifah r.a, gurunya Imam Syafi’i. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa berniat berpuasa cukup satu kali selama Ramadhan.
Namun ia menjelaskan, bahwa pendapat tersebut fungsinya adalah untuk mem-backup pendapat Imam Syafi’I yang ketika setiap hari harus niat berpuasa.
Di momen bulan suci Ramadan ini, Menag mengajak seluruh umat muslim untuk memulai segala hal yang positif, yang tentu harus pula dengan disertai niat.
“Mohon kita mulai start mengaji atau khataman Alquran, dan mumpung libur hari Sabtu. Dan yang memiliki rencana-rencana monumental niatkan dan mulailah pada bulan Ramadan,” ujar Menag.
Menurutnya, hal positif bukan hanya soal ibadah, peletakan batu pertama sebuah bangunan, atau menulis buku, dan lainnya juga termasuk sebagai hal yang positif yang harus disertai niat.
Bahkan menurutnya, apapun hal besar yang direncanakan, baik aspek bisnis, sosial, kebudayaan, dan seterusnya, agar mengawalinya pada bulan suci Ramadan.
“Banyak peristiwa penting dalam agama Islam terjadi pada bulan Ramadan. Seperti malam ketika diturunkannya Al-Qur’an/malam nuzul Al-Qur’an. Peristiwa ini memiliki makna yang sangat penting. Selain Al-Qur’an itu diturunkan, juga sekaligus menjadikan Muhammad Saw menjadi Nabi dan juga sekaligus sebagai Rasul,” pungkas Menag.



