“Meski banyak yang pesimis dan menentang, kami memilih optimis saja agar semangat juang tak padam, juga memilih ‘pesimis’, sebab kata GWR optimis-pesimis penting, pesimis dalam pemikiran GWR bukan ‘hopeless’ tapi mengandung arti tetap waspada,” ujarnya.
Dewi kemudian mengajak seluruh pihak yang memiliki perhatian terhadap persoalan agraria untuk ikut mengawal proses pembahasan hingga RUU tersebut disahkan.
“Doakan karpet merah untuk kaum tani dan rakyat miskin yang berkonflik. Doakan DPR tetap lurus sampai sah,” katanya.
Menurut Dewi, perjuangan reforma agraria pada akhirnya bukan hanya kepentingan KPA maupun organisasi petani, melainkan berkaitan dengan upaya mewujudkan keadilan sosial.
“Bagi kami jika petani dan rakyat yang memperjuangkan hak atas tanah bersemangat dan berdoa, kenapa kita-kita tidak bersatu ikut fight untuk keadilan sosial dan kebahagiaan rakyat? Ayolah!” pungkasnya.



