Firsada menilai pesan inklusivitas dalam film tersebut relevan untuk disampaikan kepada masyarakat luas, terutama dalam membangun kesadaran mengenai pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman.
“Film ini sangat layak ditonton agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan,” tegas Firsada.
Menurut dia, pendidikan di masa depan tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan membaca dan memahami teks, tetapi juga harus membangun kemampuan berpikir kritis dan rasional.
“Pendidikan ke depan bukan hanya membuat orang bisa membaca teks dengan logika mistika, tetapi juga dengan logika rasional agar mampu berpikir kritis, memilah informasi valid, dan terhindar dari penipuan maupun hoaks,” ujarnya.
Firsada berharap pesan filosofis yang disampaikan melalui Ageman dapat dipahami oleh masyarakat maupun para pemimpin.
Menurutnya, penguatan kerukunan dan kemampuan berpikir kritis dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kehidupan sosial yang damai sekaligus mempersempit ruang bagi berkembangnya intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme.
Ia pun optimistis pesan tersebut dapat mendorong masyarakat untuk melihat keberagaman sebagai kekuatan bersama dalam menjaga Indonesia tetap damai dan kondusif.



