HOLOPIS.COM, JAKARTA – Film Empat Musim Pertiwi karya sutradara Kamila Andini terus mendapat sambutan positif, baik di panggung internasional maupun di Indonesia. Setelah mencuri perhatian dalam ajang Busan International Film Festival (BIFF) 2026 di Korea Selatan, film ini kini menuai apresiasi dari penonton Tanah Air. Karya tersebut dinilai menghadirkan kisah perempuan yang kuat, menyentuh, dan sarat makna tentang harapan serta perjuangan menghadapi ketidakadilan.
Prestasi film ini turut diikuti oleh pemeran utamanya, Putri Marino, yang memerankan karakter Pertiwi. Setelah menerima penghargaan Face of Asia Awards dari majalah Marie Claire Korea Selatan dalam rangkaian BIFF 2026, Putri kembali memperoleh pengakuan melalui nominasi Best Performance di Singapore International Film Festival (SGIFF) 2026. Pencapaian tersebut semakin menegaskan perhatian terhadap penampilannya dalam film yang mengangkat kompleksitas pengalaman perempuan.
Bagi Putri, karakter Pertiwi memberikan pelajaran mendalam mengenai kekuatan yang tumbuh di tengah kerapuhan. Ia melihat bahwa seseorang yang menghadapi berbagai persoalan tetap memiliki kemampuan untuk menjadi sumber kekuatan bagi orang lain.
“Melihat betapa kuatnya Pertiwi dan juga rapuhnya Pertiwi, tapi dia juga bisa menjadi kekuatan untuk orang-orang di sekitarnya. Dan orang-orang di sekitarnya yang juga rapuh, yang juga mengalami ketidakadilan, bisa menjadi kekuatan juga untuk Pertiwi. Aku belajar banyak hal tentang kekuatan dari film ini,” ujar Putri Marino dalam keterangannya yang diterima Holopis.com, Senin (12/10).
Apresiasi juga datang dari aktor Reza Rahadian yang menilai Empat Musim Pertiwi memiliki kedalaman cerita melalui beragam sudut pandang. Menurutnya, film ini tidak hanya membicarakan perjuangan perempuan, tetapi juga memperlihatkan arti kehadiran orang-orang yang kerap dipandang berbeda atau tidak diterima oleh lingkungan sosialnya.
“Film yang indah dan kuat. Film ini berbicara banyak tentang kekuatan perempuan dari berbagai macam lapisan, perspektif seorang ibu, perspektif seseorang yang mungkin dianggap orang yang aneh atau bahkan mereka yang tidak diterima di masyarakat, tapi ternyata punya arti yang sangat dalam bagi kehidupan Pertiwi secara khusus,” ungkap Reza.
Pujian serupa disampaikan aktor muda El Putra Sarira yang menyebut film tersebut sebagai karya dengan kualitas istimewa. Ia mengungkapkan kekagumannya secara singkat melalui pernyataan, “Mahakarya yang luar biasa indah,” katanya.
Sementara itu, Rachel Amanda mengaku memiliki kedekatan emosional dengan perjalanan Pertiwi, terutama ketika melihat bagaimana perempuan kerap diremehkan meskipun telah berusaha menunjukkan keberanian dan kemampuannya.
“Sebagai perempuan, ada rasa marah. Bagaimana perempuan itu sangat mudah dikerdilkan walaupun kita sudah berupaya berani. Bagiku yang menarik itu justru tentang sisi Pertiwi yang punya keahlian lain. Itu sisi yang empowering dari Pertiwi. Dia menolak di posisi sebagai orang yang tidak punya daya, padahal dia bisa melakukan sesuatu yang lain,” tutur Rachel.
Ditulis dan disutradarai oleh Kamila Andini serta diproduseri Ifa Isfansyah, Empat Musim Pertiwi merupakan hasil kerja sama enam negara, yakni Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia. Produksi film ini turut melibatkan kolaborasi dengan Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, dan Navvaros, serta mendapat dukungan sponsor Oriflame. Kehadiran berbagai pihak dari dalam dan luar negeri memperkuat perjalanan film ini sebagai karya sinema Indonesia yang menjangkau penonton internasional.
Dengan sambutan hangat di Busan, apresiasi dari para pelaku industri perfilman Indonesia, serta nominasi yang diraih Putri Marino di Singapore International Film Festival 2026, Empat Musim Pertiwi menjadi salah satu karya yang patut mendapat perhatian. Film ini mengajak penonton menyelami kisah tentang keberanian, ketidakadilan, dan kekuatan perempuan dalam menemukan daya di tengah keterbatasan.



