Kemenkes Siaga Hadapi Ancaman Hantavirus, 51 Pos Karantina Diperketat di Seluruh RI

0 Shares
Ukuran text:
21
Dengarkan Berita:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kementerian Kesehatan RI mulai perketat pengawasan pintu masuk negara. Langkah itu dilakukan menyusul meningkatnya kewaspadaan terhadap ancaman hantavirus yang dilaporkan muncul di sejumlah wilayah dunia.

Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes menyiapkan 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) yang tersebar di seluruh Indonesia guna memantau potensi masuknya penyakit menular dari luar negeri.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan sistem pengawasan tersebut jadi garda terdepan pemerintah dalam menghadapi ancaman wabah lintas negara.

“Ketika ada peningkatan kasus penyakit yang berpotensi menjadi wabah di negara lain, kantor kekarantinaan bertugas melakukan pengamatan dan perlindungan agar penyakit tersebut tidak masuk ke Indonesia,” kata Andi di Jakarta, dikutip pada Kamis (14/5/2026).

Andi menambahkan pengawasan dilakukan secara ketat terhadap penumpang pesawat maupun kapal laut yang datang dari negara dengan risiko tertentu.

Pemerintah pun kini memperkuat sistem pemantauan kesehatan di berbagai pintu masuk internasional melalui pemeriksaan suhu tubuh. Pemantauan itu menggunakan thermal scanner serta pelacakan gejala kesehatan penumpang.

Selain itu, sistem pengisian data kesehatan kini juga sudah berbasis digital untuk mempercepat deteksi dini penyakit menular.

“Kemudian jika ada gejala, kita mengisi, kan? Orang-orang yang masuk ke Indonesia ada All Indonesia, kalau dulu pakai kertas, sekarang itu sudah pakai barcode digital,” jelas Andi.

Data tersebut akan menjadi bagian penting dalam proses screening kesehatan nasional. Bila ditemukan gejala mencurigakan, penumpang bisa langsung dirujuk ke rumah sakit rujukan yang telah disiapkan pemerintah.

Kewaspadaan ini meningkat setelah muncul laporan kasus hantavirus pada kapal pesiar MV Hondius. Namun, Kemenkes memastikan jenis virus yang ditemukan berbeda dengan hantavirus yang selama ini terdeteksi di Indonesia.

Andi menjelaskan kasus pada kapal pesiar tersebut merupakan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang banyak ditemukan di kawasan Amerika Selatan.

“Sementara itu, kasus hantavirus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang telah ditemukan sejak 1991 dengan strain Seoul virus,” katanya.

Menurut Kemenkes, hingga kini belum ada laporan kasus HPS di Indonesia.

Andi menambahkan virus pada MV Hondius berasal dari strain Andes virus yang dalam sejumlah penelitian disebut dapat menular antarmanusia melalui kontak erat dan berkepanjangan.

Berbeda dengan tipe HFRS yang selama ini ditemukan di Asia, termasuk Indonesia, yang sampai sekarang belum memiliki bukti penularan dari manusia ke manusia.

Pemerintah pun meminta masyarakat tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kebersihan lingkungan dan paparan tikus yang menjadi pembawa utama hantavirus.

Dengan penguatan sistem karantina kesehatan di seluruh pintu masuk negara, pemerintah berharap potensi penyebaran virus berbahaya dari luar negeri dapat dicegah lebih cepat sebelum meluas di Indonesia.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Dani Yoga
Tim Penulis & Editor
Dani Yoga
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU