HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah masih berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga 22 September 2026, masih ada 209,78 hektare lahan gambut yang terbakar di enam provinsi prioritas.
Enam wilayah tersebut yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Pemerintah kini memperkuat pemadaman darat sambil tetap mengandalkan operasi udara dan modifikasi cuaca.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan kondisi tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas penanganan karhutla di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/9).
Dari total target penanganan 1.212,52 hektare, pemerintah telah berhasil memadamkan 1.002,74 hektare lahan gambut.
Dengan demikian, masih tersisa sekitar 209,78 hektare yang harus ditangani.
Meski luas lahan yang terbakar terus berkurang, pemerintah tidak ingin lengah. Pemadaman terus dikebut untuk menuntaskan area yang masih terbakar sekaligus mencegah munculnya titik api baru.
“Ini kami ikuti terus hari per hari, sehingga kami upayakan setiap hari yang dipadamkan itu besar,” jelas Suharyanto.
Pemadaman Darat Jadi Andalan
Operasi darat masih menjadi ujung tombak penanganan karhutla. Langkah tersebut diperkuat dengan operasi udara, termasuk water bombing, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
BNPB sebelumnya juga menegaskan bahwa kekuatan utama pemadaman tetap berada di Satgas Darat. Di sejumlah daerah, operasi udara menghadapi tantangan karena kondisi asap yang membuat jarak pandang menurun.
Kondisi tersebut juga menjadi kendala dalam pelaksanaan OMC di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Asap tebal tidak hanya mengganggu penerbangan untuk operasi modifikasi cuaca, tetapi juga dapat menghambat kegiatan water bombing dan penerbangan komersial.
Dikebut Sampai Hujan Datang
Pemerintah menyatakan operasi pemadaman dan OMC akan terus dilakukan hingga musim hujan alami tiba.
“Kami akan terus melaksanakan kegiatan dengan maksimal, dan kondisi tersebut kami yakinkan akan berakhir paling cepat pertengahan Oktober 2026, dan paling lambat minggu ke-tiga November 2026,” tambah Suharyanto.
Pemerintah sebelumnya memang telah memperkuat operasi karhutla di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan. Operasi dilakukan dengan kombinasi pemadaman darat, water bombing, patroli udara dan OMC.
Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo meminta penanganan karhutla terus diperkuat.




