HOLOPIS.COM, JAKARTA – Bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) pada Desember mendatang, lebih tinggi dari kenaikan 25 bps yang saat ini diperhitungkan pasar. Langkah tersebut diperkirakan menjadi opsi jika kenaikan suku bunga sebelumnya belum mampu menekan inflasi secara signifikan.
Prediksi itu disampaikan Jason Schenker, Presiden Prestige Economics, yang sejak awal memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga. Menurutnya, bank sentral AS kemungkinan tidak akan mengambil langkah serupa pada pertemuan Oktober karena masih membutuhkan waktu untuk melihat dampak kebijakan sebelumnya.
Schenker menilai, keputusan pada Desember akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan data ekonomi terbaru yang diterima para pejabat The Fed dalam beberapa pekan mendatang.
“Ketika memasuki Desember, jika kenaikan suku bunga pada September belum berhasil menekan inflasi secara lebih signifikan, mereka mungkin memilih kenaikan sebesar 50 basis poin, bukan 25 basis poin, agar dampaknya lebih besar,” kata Schenker dalam keterangannya, dikutip Holopis.com, Kamis (15/10/2026).
Kenaikan sebesar 50 bps setara dengan 0,50 poin persentase. Jika skenario tersebut ditempuh, langkah The Fed akan lebih agresif dibandingkan ekspektasi pasar yang saat ini memperhitungkan kenaikan 25 bps pada Desember.
Perdebatan mengenai arah kebijakan moneter AS menguat setelah data indeks harga konsumen (IHK) menunjukkan inflasi lebih tinggi dari perkiraan ekonom. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi lonjakan biaya bahan bakar.
Kondisi itu sempat mendorong peluang kenaikan suku bunga pada Oktober melampaui 50 persen di pasar kontrak berjangka. Namun, peluang tersebut kembali menurun pada Rabu.
Schenker menilai, data yang tersedia belum cukup untuk menjadi dasar bagi The Fed mengambil keputusan kenaikan suku bunga pada Oktober. Pasalnya, sebagian besar data inflasi yang dirilis pada Rabu dikumpulkan sebelum kenaikan suku bunga pada September dilakukan.
“Menurut saya, belum cukup banyak data yang tersedia untuk memberi mereka keyakinan yang dibutuhkan,” kata Schenker.
Menurutnya, The Fed perlu melihat apakah kenaikan suku bunga sebelumnya mulai memberikan dampak terhadap tekanan harga sebelum menentukan langkah berikutnya.
Di antara pertemuan Oktober dan Desember, para pejabat The Fed dijadwalkan menerima dua laporan ketenagakerjaan tambahan dan satu laporan IHK. Data tersebut dapat menjadi pertimbangan penting untuk menilai kondisi perekonomian dan efektivitas kebijakan moneter.
“Waktunya hanya enam pekan, tetapi mereka akan memperoleh jauh lebih banyak data,” kata Schenker.
“Jika mereka melihat bahwa kenaikan 25 basis poin tidak memberikan dampak apa pun, saya pikir mereka mungkin akan menerapkan kenaikan sebesar 50 basis poin,” pungkasnya.



