HOLOPIS.COM, JAMBI – Sebuah fenomena alam yang tidak biasa baru-baru ini mengejutkan komunitas pendaki dan para ahli zoologi di Indonesia. Sebuah video amatir yang diunggah oleh seorang pendaki di kawasan puncak Gunung Kerinci, Jambi, mendadak viral di media sosial pada akhir September 2026. Video tersebut memperlihatkan seekor mamalia kecil berbulu indah yang tengah duduk tenang di atas bebatuan vulkanik yang gersang, jauh di atas batas vegetasi pohon.
Bagi mata awam, satwa ini tampak asing dan mistis. Namun, para ahli segera mengidentifikasi makhluk tersebut sebagai Callosciurus prevostii atau Tupai Prevost. Penampakan ini langsung memicu perdebatan dan rasa penasaran: bagaimana bisa seekor satwa penghuni hutan hujan tropis yang lebat bisa sampai ke titik tertinggi di Sumatra yang dingin dan berbatu?
Mengenal Tupai Prevost: Si Cantik Tiga Warna
Tupai Prevost—atau yang di Indonesia sering disebut sebagai jelarang atau bajing tiga warna—merupakan salah satu spesies dari keluarga Sciuridae (bajing dan tupai) dengan penampilan paling menawan di dunia.
Satwa ini sangat mudah dikenali karena pembagian warna bulunya yang tegas. Bagian atas tubuh (punggung) dan ekornya berwarna hitam pekat atau keabu-abuan, bagian perutnya berwarna cokelat kemerahan atau oranye tua, dan kedua warna ini dipisahkan oleh garis putih tebal di sepanjang sisi tubuhnya. Pada spesimen yang ditemukan di Kerinci, kepalanya terlihat memiliki warna oranye kekuningan yang mencolok.
Tupai Prevost adalah jenis satwa arboreal, yang berarti menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pepohonan. Mereka adalah penghuni asli hutan hujan tropis dataran rendah hingga hutan perbukitan di kawasan Asia Tenggara, termasuk Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Semenanjung Malaysia.
Sebagai hewan omnivora, makanan utama mereka adalah buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan, serta sesekali memakan serangga kecil. Di alam liar, mereka memiliki peran penting sebagai agen penyebar biji tanaman hutan yang membantu regenerasi hutan hujan.
Mengapa Temuan di Puncak Kerinci Menghebohkan?
Secara ekologis, keberadaan Tupai Prevost di puncak Gunung Kerinci dianggap sebagai anomali perilaku yang sangat langka. Ada beberapa alasan mengapa para peneliti dan pengamat lingkungan terkejut. Salah satunya adalah dugaan bahwa Tupai ini sedang berada jauh dari sumber makanan. Puncak Gunung Kerinci (sekitar 3.805 mdpl) adalah zona aktif vulkanik yang didominasi oleh bebatuan, pasir, dan belerang tanpa adanya pepohonan atau tumbuhan berbuah. Menjadi pertanyaan besar bagaimana satwa ini bertahan hidup tanpa pasokan makanan alaminya di sana.
Atau bisa jadi karena adanya suhu ekstrem. Karena sebagai hewan tropis yang biasa hidup di kehangatan kanopi hutan, suhu ekstrem yang mendekati pembekuan di puncak gunung pada malam hari seharusnya menjadi lingkungan yang mematikan bagi mereka.
Atau yang ketiga adalah migrasi yang misterius. Para ahli berspekulasi mengenai alasan tupai tersebut mendaki begitu tinggi. Beberapa teori menyebutkan kemungkinan adanya gangguan habitat di kaki gunung yang memaksa satwa ini bermigrasi ke atas, adanya perubahan cuaca ekstrem (seperti fenomena El Nino yang membuat suhu di bawah lebih panas), atau sekadar perilaku tersesat saat mencari wilayah baru (territorial displacement).
Pun demikian, temuan Tupai Prevost ini merupakan fenomena penting, dan bisa sebagai pengingat yang sangat berharga bagi kita semua. Gunung Kerinci yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) bukan hanya sekadar jalur pendakian atau objek wisata, melainkan benteng pertahanan terakhir bagi kekayaan biodiversitas Sumatra.
Kemunculan Tupai Prevost di tempat yang tidak semestinya ini menjadi sinyal kuat agar kita terus menjaga kelestarian hutan di bawahnya. Bagi para pendaki, temuan ini menjadi imbauan agar selalu menjaga kebersihan, tidak meninggalkan sampah makanan yang dapat merusak pola diet alami satwa liar, dan tidak mengganggu atau memberi makan satwa jika berpapasan di jalur pendakian.



