Ia menilai perbedaan harga yang sangat lebar tersebut berpotensi ikut memberikan tambahan tekanan terhadap inflasi apabila produk tersebut beredar secara luas.
“Nah itu luar biasa menambah kan, harusnya harganya Rp13.500 (per kg), dia jual Rp40.000 (per kg). Menurut Anda menambah inflasi nggak? Penyumbang nggak? Nah itu (penyebabnya),” pungkasnya.
Pemerintah kini masih melakukan penelusuran untuk memastikan faktor yang membuat beras kembali memberikan tekanan terhadap inflasi Agustus 2026.
Di tengah stok nasional yang disebut masih tersedia, persoalan harga dan distribusi menjadi perhatian yang tak kalah penting.
- Advertisement -



