Menurutnya, ketersediaan beras justru masih dalam kondisi banyak.
“Kemarin salah satu kami cek ya, karena stok banyak kan, berarti bukan karena stok kan (inflasinya), karena beras banyak. Masalahnya adalah sementara kita selidiki,” kata Amran saat ditemui di BRMP Padi Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Rabu (2/9/2026).
Pernyataan tersebut membuka persoalan lain di balik tingginya harga beras yang ikut memberikan tekanan terhadap inflasi.
Amran kemudian menyinggung temuan terkait beras fortifikasi.
Ia menyebut hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan sebagian besar sampel yang diperiksa bermasalah.
“Sesuai hasil laboratorium, 90% yang kita cek beras fortifikasi melanggar,” ujar Amran.
Menurut dia, persoalan tersebut berkaitan dengan harga jual beras fortifikasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga beras biasa.
Amran menyebut ada beras fortifikasi yang dijual dengan harga mencapai Rp42.000 hingga Rp56.000 per kilogram.
Sementara rata-rata harga yang disebutkannya berada di kisaran Rp22.000 per kilogram.
Kondisi itu dinilai bisa menjadi persoalan ketika produk berharga tinggi tersebut masuk ke dalam konsumsi masyarakat dalam jumlah besar.
Amran membandingkan harga tersebut dengan beras medium yang berada di kisaran Rp13.000 per kilogram.
Menurutnya, terdapat selisih harga yang cukup besar antara beras biasa dengan produk fortifikasi yang dijual jauh lebih mahal.
“Katakanlah harga beras (medium) Rp13.000 (per kg) itu selisihnya dengan (beras fortifikasi yang dijual) Rp22.000 per kg. Jadi ini penipuan kan,” kata Amran.



