Dengan pola pengadaan seperti ini, kebutuhan program diharapkan tidak hanya terpenuhi, tetapi juga memberi ruang bagi produsen lokal untuk memperluas pasar mereka.
Peternak Telur Ikut Kebagian Peluang
Contoh penerapan pengadaan berbasis daerah terlihat dalam penyediaan telur untuk MBG di Jawa Timur.
Berdasarkan materi BGN, SPPG di wilayah tersebut diwajibkan membeli telur dari peternak lokal sebanyak tiga kali dalam seminggu.
Harga acuan yang tercantum berada di kisaran Rp24.000 per kilogram di tingkat peternak. Skema tersebut diperkirakan menyerap sekitar 8–10 persen dari total produksi telur di Jawa Timur.
Pengadaan secara rutin berpotensi memberikan kepastian pasar bagi peternak. Di sisi lain, kebutuhan dalam jumlah besar juga dapat mendorong aktivitas distribusi dan perputaran uang di daerah.
Koperasi pun memiliki peluang untuk memperkuat perannya dengan menghimpun hasil produksi petani dan peternak, kemudian menghubungkannya dengan kebutuhan pengadaan program.
Meski begitu, besarnya peluang tersebut tetap bergantung pada pelaksanaan di lapangan.
Keterlibatan pemasok lokal, kestabilan permintaan, kewajaran harga, kualitas produk, keamanan pangan, hingga ketepatan pembayaran menjadi faktor penting agar manfaat ekonomi benar-benar dirasakan oleh pelaku usaha.
Lebih dari Satu Juta Pegawai dan Relawan Terlibat
Dampak operasional MBG juga terlihat dari jumlah pegawai dan relawan yang terlibat dalam pelaksanaannya.
Data BGN hingga September 2026 mencatat sebanyak 1.027.998 pegawai dan relawan masih aktif dalam program tersebut. Jumlah itu terdiri atas 86.120 pegawai SPPG dan 941.878 relawan.
Namun, angka tersebut perlu dibaca sesuai kategori pencatatan BGN. Jumlah pegawai dan relawan tidak serta-merta dapat disamakan dengan jumlah tenaga kerja formal atau pekerja bergaji.
Dari sisi jangkauan layanan, BGN mencatat 26.385 SPPG berdasarkan Surat Penetapan KPM Sementara II per 9 Oktober 2026. Fasilitas tersebut tercatat melayani 433.571 kelompok penerima manfaat dengan total 57.491.334 penerima manfaat.
Sementara itu, data hingga September 2026 menunjukkan realisasi anggaran MBG mencapai Rp149,79 triliun dengan cakupan 53.906.576 penerima manfaat.
Kedua angka penerima manfaat tersebut berasal dari periode pencatatan yang berbeda sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung tanpa memperhatikan waktu pengambilan datanya.
Besarnya jangkauan layanan tersebut menggambarkan kebutuhan pangan yang harus dipenuhi secara berkelanjutan. Kondisi ini sekaligus membuka peluang bagi produsen dan pemasok lokal yang mampu memenuhi standar kualitas, keamanan, harga, serta kesinambungan pasokan.
Tantangan MBG Bukan Sekadar Memperluas Pasar
Dengan skala program yang besar, tantangan berikutnya adalah memastikan peluang usaha yang terbuka dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.



