Beberapa hal yang patut diperhatikan antara lain anak yang biasanya terbuka menjadi lebih tertutup, bersikap defensif ketika ditanya mengenai aktivitas daring, atau mulai menghindari komunikasi dengan keluarga.
Orang tua juga perlu mengetahui jenis game yang dimainkan anak dan memahami dengan siapa mereka berinteraksi melalui fitur obrolan.
Kebiasaan bermain di luar waktu yang disepakati atau sikap sangat tertutup mengenai pertemanan daring dapat menjadi alasan untuk membuka percakapan lebih lanjut.
Namun, perubahan perilaku tersebut tidak otomatis berarti anak terpapar radikalisme. Orang tua perlu melihat konteksnya dan mencari tahu penyebab perubahan sebelum mengambil kesimpulan.
Putri juga menyinggung reaksi emosional anak ketika akses bermain dibatasi.
“Cara mengujinya bisa dengan mengambil akses mereka. Jika anak menjadi sangat gelisah, marah, hingga mengalami ledakan emosi berlebihan hanya karena tidak bermain satu hari, itu adalah tanda peringatan yang jelas,” kata Putri.
Meski demikian, reaksi emosional saat akses game dibatasi bukan bukti khusus adanya paparan ekstremisme. Kondisi tersebut perlu dipahami dalam konteks kebiasaan bermain, perkembangan emosi, dan situasi psikologis anak secara keseluruhan.
Jangan Langsung Menghakimi, Ajak Anak Bicara
Menurut Putri, memahami perkembangan fisik, psikologis, dan sosial remaja menjadi bekal penting bagi orang tua ketika menghadapi perubahan perilaku anak.
Alih-alih langsung memarahi atau mengambil tindakan secara berlebihan, orang tua disarankan membangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa aman untuk bercerita.
Pendekatan dialogis juga membantu orang tua memahami pengalaman anak di ruang digital, termasuk pertemanan, percakapan, dan konten yang mereka temui.
Orang tua dapat memulai percakapan dengan menanyakan game yang sedang dimainkan, teman yang dikenal secara daring, atau pengalaman yang membuat anak merasa nyaman maupun tidak nyaman saat berinteraksi di internet.
Dengan komunikasi yang baik, anak diharapkan lebih berani menceritakan situasi yang membuatnya tidak nyaman, termasuk ketika ada orang yang meminta informasi pribadi, mengajak merahasiakan hubungan, atau menekan mereka untuk mengikuti suatu kelompok.
Literasi Digital Jadi Benteng Perlindungan
Selain komunikasi, literasi digital perlu menjadi bagian dari pendampingan sehari-hari. Anak perlu memahami pentingnya menjaga informasi pribadi, mengenali manipulasi emosional, dan berani menolak ajakan yang membuat mereka merasa terancam.
Orang tua juga dapat menyepakati aturan penggunaan perangkat, waktu bermain, serta batasan interaksi dengan orang yang dikenal melalui internet. Aturan tersebut sebaiknya dibicarakan bersama agar anak memahami alasan di balik pembatasan yang diterapkan.
Pada akhirnya, perlindungan anak dari paparan ekstremisme digital tidak cukup dilakukan dengan melarang penggunaan game online. Pendampingan, pemahaman terhadap dunia digital anak, dan hubungan keluarga yang terbuka menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.



