HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pengamat politik Ray Rangkuti memprotes pembatasan jumlah perwakilan Aliansi Masyarakat Sipil yang hendak menyampaikan aspirasi di Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Aliansi Kolektif Sipil Pemakzulan Gibran yang terdiri dari sekitar 14 elemen itu disebut hanya diperbolehkan mengirimkan lima orang delegasi untuk mengikuti audiensi di kompleks parlemen, Jakarta Pusat.
Ray mengatakan, pihaknya telah mendapat kesempatan audiensi dari Fraksi PKB sejak sehari sebelumnya. Namun, saat berada di lokasi pada hari yang dijadwalkan, mereka mendapat informasi bahwa pertemuan perlu dijadwalkan ulang.
“Sebenarnya sudah sejak dari kemarin ya kita diberi kesempatan oleh Fraksi PKB untuk audiensi,” kata Ray saat doorstop terkait audiensi dengan Fraksi PKB di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (13/10).
Menurut Ray, pihak sekretariat kemudian menyampaikan bahwa hanya lima orang yang diperbolehkan masuk dan pertemuan kemungkinan dilakukan di ruang pers. Ia menolak pembatasan tersebut karena menilai sekretariat bertugas memfasilitasi, bukan menentukan jumlah peserta audiensi.
“Saya mengatakan kalau itu Sekretariat, saya menolak, karena pihak Sekretariat tidak punya kewenangan mengatur jumlah orang untuk masuk ke dalam ruang pertemuan,” ujarnya.
Ray menegaskan, aliansi datang secara resmi untuk menyerahkan aspirasi, bukan menggelar demonstrasi. Ia menyebut mereka tidak membawa spanduk maupun melakukan aksi berteriak-teriak di lingkungan DPR.
“Kita datang baik-baik bahkan tidak ada yang bawa spanduk satu pun, hanya mau menyerahkan itu juga dihalang-halangi,” ucap Ray.
Ia meminta seluruh perwakilan aliansi diberi kesempatan menyampaikan aspirasi, meskipun pertemuan tidak berlangsung di ruang fraksi. Ray juga menyatakan pihaknya bersedia mengikuti penjadwalan ulang untuk berdialog, asalkan aspirasi dapat diserahkan terlebih dahulu.
“Yang penting ya PKB mau dorong hak-hak angket itu,” tuturnya.
Sementara itu, Roy Suryo menilai penerimaan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi tidak mengganggu fungsi DPR, terlebih lembaga legislatif masih menjalani masa reses hingga awal November. Menurutnya, DPR lazim menerima tamu dari berbagai kalangan pada masa tersebut.
“Masa reses itu biasa, DPR itu terima tamu dari mana saja itu biasa,” kata Roy.
Roy juga membandingkan penerimaan aliansi oleh Fraksi Golkar dan PKS yang menyediakan ruang pertemuan. Ia berharap PKB memberikan tempat yang layak bagi aliansi untuk menyampaikan aspirasi, bukan membiarkan mereka menunggu di pintu keamanan.



