Guru Besar ITB Apresiasi Capaian Energi Prabowo-Gibran, Soroti B50 hingga PLTS 100 GWp

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Tutuka Ariadji mengapresiasi sejumlah agenda strategis sektor energi selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Agenda tersebut mencakup pengembangan biodiesel B50, penghentian impor solar, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp), hingga perluasan jaringan gas rumah tangga.

Tutuka menilai, pemanfaatan sumber daya alam domestik yang didukung penguasaan teknologi menjadi kunci untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional.

“Biodiesel mempunyai sejarah panjang yang dikembangkan waktu awalnya oleh para dosen ITB, hanya dengan keyakinan kuat pada kemampuan teknologi dan potensi besar sumberdaya alamnya. Presiden Prabowo mempunyai target tertinggi biodiesel di dunia tidak satupun yang menyamai terciptalah B50,” ujar Tutuka, Selasa (13/10/2026).

Menurut dia, pengembangan biodiesel B50 merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan bahan baku dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap solar impor. Sementara itu, rencana pembangunan PLTS berkapasitas 100 GWp menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan energi terbarukan.

Di luar pengembangan bahan bakar dan energi surya, Tutuka menyoroti pembangunan jaringan gas rumah tangga yang ditargetkan mencapai satu juta sambungan pada 2026. Ia menyebut jumlah tersebut melampaui akumulasi sambungan yang dibangun menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sejak 2009 hingga 2025.

“Pada tahun 2026 ini, pertama kali dalam sejarah Indonesia melaksanakan pembangunan jaringan gas sebanyak 1 juta sambungan rumah tangga, dimana data mengatakan bahwa dari sejak awal pembangunan jaringan gas dengan biaya APBN di tahun 2009 sampai dengan tahun 2025 kemarin, total jumlah sambungan rumah tangga tidak mencapai 1 juta,” kata Tutuka.

Potensi Gas Bumi dan Hilirisasi

Tutuka juga menilai potensi gas bumi Indonesia masih terbuka lebar, antara lain dari Blok Andaman, Blok Agung, kawasan Selat Makassar, Blok Masela, serta wilayah eksplorasi Tangguh.

Potensi dari sejumlah wilayah tersebut diperkirakan dapat mendorong produksi gas bumi nasional hingga hampir dua kali lipat dari tingkat produksi saat ini pada periode 2030–2035. Namun, peningkatan produksi perlu diimbangi dengan pembangunan infrastruktur dan pengembangan industri hilir agar menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian.

“Untuk itu pengembangan kapasitas nasional dengan hilirisasi menjadi krusial dengan memanfaatkan berlimpahnya produksi gas bumi tersebut, Presiden telah meresmikan 11 projek hilirisasi yang telah diresmikan,” ujarnya.

Menurut Tutuka, hilirisasi menjadi faktor penting untuk memastikan peningkatan produksi gas bumi tidak hanya memperkuat pasokan energi, tetapi juga mendukung kapasitas industri nasional.

Anggaran Infrastruktur Energi Rp22 Triliun

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Muhammad Ibnu Idris
Apresiasi untuk Muhammad Ibnu Idris

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU