HOLOPIS.COM, JAKARTA – Nama Nokia pernah begitu kuat di dunia handphone. Dari handphone sederhana sampai smartphone, perusahaan asal Finlandia itu sempat menjadi pemain terbesar di pasar global sebelum perlahan kehilangan pijakan ketika era iPhone dan Android dimulai.
Nokia kemudian menjual bisnis perangkat dan layanannya kepada Microsoft dalam kesepakatan senilai sekitar USD 7,2 miliar pada 2013, dengan proses akuisisi selesai pada 2014.
Lantas, apa yang membuat raksasa handphone ini bisa jatuh?
Nokia mulai masuk ke bisnis telepon seluler sejak era awal perkembangan industri tersebut. Perusahaan ini kemudian menjadi pemimpin pasar handphone dunia pada 1998 dan mempertahankan posisi tersebut selama bertahun-tahun.
Pada masa kejayaannya, Nokia bahkan menjadi salah satu perusahaan teknologi dengan nilai pasar terbesar. Tahun 2007 menjadi salah satu titik penting, ketika Nokia masih menjadi kekuatan dominan di industri handphone.
Namun, di saat yang sama, sebuah perubahan besar sedang terjadi.
Apple memperkenalkan iPhone pada 2007. Google kemudian mendorong perkembangan Android. Cara orang menggunakan handphone pun mulai berubah: bukan lagi sekadar untuk menelepon, mengirim SMS, atau mengambil gambar, tetapi menjadi perangkat komputasi yang mengandalkan aplikasi dan layanan digital.
Bukan Cuma Soal Hardware
Salah satu masalah terbesar Nokia disebut berada pada software. The New Yorker menilai Nokia pada dasarnya lebih kuat sebagai perusahaan hardware. Para engineer-nya dikenal ahli membuat perangkat fisik, tetapi pengembangan software dan ekosistem aplikasi tidak mendapatkan posisi yang sama kuat.
“Nokia inovatif dalam perangkat keras dan merupakan kekuatan dominan di awal pasar smartphone. Namun Apple dan kemudian Android, melihat nilai software. Teknologi layar sentuh Apple mengubah cara orang memakai ponsel dan App Store-nya mudah digunakan. Mungkin Nokia kurang urgensi. Di awal era iPhone, penurunan pangsa pasar global terjadi bertahap dan tak tiba-tiba,” sebut BBC yang dikutip Holopis.com, Kamis (24/9/2026).
The New Yorker juga menyoroti bagaimana pengembangan produk Nokia lama didominasi oleh engineer hardware, sementara para ahli software kurang mendapatkan pengaruh dalam proses pengembangan.
Sebaliknya, Apple sejak awal memperlakukan hardware dan software sebagai satu kesatuan. Hasilnya, pengalaman pengguna menjadi bagian penting dari produk, bukan sekadar spesifikasi perangkat.
iPhone dan Android Mengubah Permainan
Persoalannya bukan hanya Nokia terlambat menghadirkan smartphone yang kompetitif. Apple dan Google membangun sesuatu yang lebih sulit dikejar: ekosistem aplikasi.
The New Yorker mencatat bahwa Apple dan Google membangun toko aplikasi yang memungkinkan jutaan pengembang ikut memperkaya platform mereka. Semakin banyak aplikasi, semakin menarik perangkat tersebut bagi pengguna dan pengembang lainnya.
Di sisi lain, Nokia masih harus berhadapan dengan persoalan sistem operasi dan pengalaman pengguna.
“Nokia pada dasarnya perusahaan hardware, bukan perusahaan software. Dengan kata lain, insinyurnya ahli membuat perangkat fisik, tapi bukan program yang membuat perangkatnya berfungsi. Pada akhirnya, perusahaan ini sangat meremehkan pentingnya software, termasuk aplikasi yang berjalan di smartphone, terhadap pengalaman menggunakan ponsel,” sebut New Yorker.
Terlalu Percaya Diri?
Ada faktor lain yang ikut disorot: Nokia disebut terlalu percaya pada kekuatan mereknya sendiri.




