HOLOPIS.COM, JAKARTA – Martha Tilaar Group menjadi salah satu nama yang dikenal dalam industri kecantikan Indonesia. Perusahaan ini berawal dari salon sederhana yang dirintis Martha Tilaar pada 1970, sebelum berkembang menjadi bisnis kosmetik, perawatan tubuh, dan jamu dengan berbagai merek.
Perjalanan tersebut tidak terlepas dari visi Martha dalam memadukan pengetahuan kecantikan modern dengan tradisi perawatan Nusantara. Melalui inovasi dan pengembangan usaha secara bertahap, bisnisnya tumbuh dari layanan salon menjadi perusahaan yang menaungi berbagai produk kecantikan lokal.
Berawal dari Salon Kecil hingga Lahirnya Sariayu
Perjalanan Martha Tilaar di industri kecantikan dimulai setelah ia belajar di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat. Ia juga sempat bekerja di salon sebelum kembali ke Indonesia pada 1969.
Dengan modal awal sekitar Rp1 juta dari tabungannya selama di Amerika Serikat, ditambah bantuan keluarga, Martha mendirikan Martha’s Salon pada 3 Januari 1970 di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Salon yang awalnya sederhana itu berkembang berkat pelayanan personal dan promosi langsung kepada masyarakat.
Pada 1972, Martha mulai mengembangkan perawatan tradisional melalui Martha Griya Salon. Ia mempelajari ramuan kecantikan dan jamu, termasuk dari neneknya, Pranoto Liem atau Mak Oco. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar pengembangan produk kecantikan berbasis tradisi Indonesia.
Tonggak penting terjadi pada 1977 ketika Martha bekerja sama dengan Boenjamin Setiawan dan Theresia Harsini Setiady dari Kalbe Farma untuk mendirikan PT Martina Berto. Perusahaan tersebut meluncurkan Sariayu Martha Tilaar sebagai produk pertamanya.
Perkembangan bisnis berlanjut dengan peresmian pabrik kosmetik pertama di kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur, pada 1981. Pada 1983, Martha mendirikan PT Sari Ayu Indonesia sebagai distributor produk Sariayu, kemudian membuka pabrik kedua pada 1986.
Ekspansi Bisnis dan Perkembangan Martha Tilaar Group
Pada periode 1988 hingga 1995, PT Martina Berto mengakuisisi sejumlah perusahaan, termasuk PT Kurnia Harapan Raya, PT Cempaka Belkosindo Indah, PT Cedefindo, PT Estrella Lab, dan PT Kreasi Boga. Perusahaan juga memperkuat riset melalui Martha Tilaar’s Innovation Center (MTIC), yang didukung puluhan peneliti.
Seiring perkembangannya, berbagai merek diperkenalkan, mulai dari Sariayu, Caring, Belia, Biokos, Professional Artist Cosmetics (PAC), Aromatic, Jamu Garden hingga Dewi Sri Spa. Pada 1996, perusahaan juga meraih sertifikasi ISO 9001, ISO 14000, dan sertifikasi Good Manufacturing Practice (GMP) di Asia, sebagaimana tercantum dalam bahan riwayat perusahaan.
Pada 1999, Martha bersama anggota keluarganya membeli seluruh saham Kalbe Farma di PT Martina Berto. Sejak saat itu, perusahaan sepenuhnya dikuasai Martha dan keluarganya, lalu dikonsolidasikan ke dalam Martha Tilaar Group.
Di luar bisnis kosmetik, Martha turut mengembangkan usaha kerajinan melalui Prama Pratiwi Martha Gallery di Sentolo, Yogyakarta, serta Kampoeng Djamoe Organik di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Pada 2014, ia juga meresmikan Roemah Martha Tilaar di Gombong, Jawa Tengah, rumah masa kecilnya yang direnovasi menjadi museum.
Martha turut mendirikan Yayasan Martha Tilaar untuk memberikan pelatihan keterampilan kecantikan kepada perempuan agar dapat mendukung kemandirian ekonomi mereka.
Dari salon kecil yang dibangun dengan modal terbatas, Martha Tilaar mengembangkan bisnis yang memadukan kosmetik modern dengan tradisi kecantikan Indonesia. Perjalanannya menjadi bagian penting dari perkembangan industri kecantikan lokal sekaligus upaya memperkenalkan kekayaan perawatan Nusantara kepada masyarakat luas.



