JAKARTA, HOLOPIS.COM — Kehadiran dan cawe-cawe politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) terbukti belum menjadi instrumen ampuh untuk mendongkrak performa Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Di tengah masifnya agenda roadshow ke berbagai daerah, elektabilitas partai berlogo tangan memegang mawar itu terbukti masih memble dan konsisten tertahan di papan bawah.
Berdasarkan hasil survei terbaru Indonesia Political Opinion (IPO) yang dirilis pada Sabtu (8/8/2026), elektabilitas PSI anteng di angka 1,9 persen. Perolehan ini menunjukkan tren stagnasi yang tidak bergeser dalam kurun waktu satu setengah tahun terakhir, kendati mesin politik figur sentral sekelas Jokowi sudah dikerahkan secara maksimal.
Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, secara blak-blakan menyoroti mandeknya pertumbuhan suara partai tersebut. Menurutnya, aktivitas politik Jokowi yang turun langsung menyapa publik di berbagai wilayah belum memberikan efek kejut (coattail effect) yang berarti bagi elektoral PSI.
“Partai Solidaritas Indonesia tidak mengalami perubahan di satu setengah tahun ini. Masih tetap di 1,9 persen, meskipun Joko Widodo melakukan roadshow ke sejumlah daerah,” ungkap Dedi saat memaparkan hasil surveinya di Jakarta.
Fenomena “Tinggi Pengenalan, Minim Pilihan”
Kondisi lemahnya PSI ini semakin diperparah oleh adanya paradoks antara popularitas dan keterpilihan. Data survei mencatat bahwa tingkat pengenalan publik terhadap PSI sebenarnya sudah sangat tinggi, yakni mencapai 70,2 persen responden mengaku tahu atau pernah melihat identitas partai tersebut.
Kendati demikian, tingginya angka pengenalan publik gagal dikonversi menjadi perolehan dukungan suara di bilik suara. Ketimpangan tajam ini mengindikasikan bahwa masalah utama PSI bukan lagi soal sosialisasi atau mengenalkan partai ke masyarakat, melainkan kegagalan meyakinkan publik yang sudah kenal untuk benar-benar menambatkan pilihan politiknya.
Tenggelam di Bawah Bayang-Bayang Partai Parlemen
Konsistensi PSI di angka satu koma membuatnya kian tertinggal jauh dari barisan partai-partai lain. Dalam simulasi bursa pilihan legislatif versi IPO, posisi puncak masih dikuasai oleh Partai Gerindra dengan 17,5 persen, disusul PDI Perjuangan (12,8 persen), Golkar (10,4 persen), dan Partai Demokrat (8,1 persen).
Bahkan, partai-partai menengah seperti PKB (7,0 persen), PAN (5,1 persen), PKS (4,6 persen), dan NasDem (4,4 persen) berada jauh di atas jangkauan PSI. Dengan perolehan 1,9 persen, PSI harus rela berada di luar zona persaingan ketat menuju Senayan.
Meski demikian, pengamat menilai peluang untuk keluar dari zona merah tetap terbuka jika partai mampu mengubah strategi pendekatan. Hanya saja, hingga detik ini, kehadiran dan kerahan figur Jokowi terbukti belum cukup bertaji untuk menyelamatkan PSI dari jeratan elektabilitas satu koma.
Sebagai catatan, survei IPO ini dilaksanakan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.200 responden yang tersebar secara nasional melalui metode multistage random sampling. Survei ini memiliki tingkat kepercayaan di angka 95 persen dengan margin of error sekitar ±2,9 persen.


