HOLOPIS.COM, JAKARTA – Penanganan kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten hingga saat ini masih dilakukan sejumlah petugas gabungan.
Operasi pemadaman yang melibatkan tim gabungan lintas instansi ini menunjukkan perkembangan signifikan, dengan progres penanganan yang dilaporkan telah mendekati angka 49 persen.
“Kolaborasi dari seluruh instansi yang ada ini ada kemajuan-kemajuan. Saat ini sudah mencapai 49 persen dan kita terus fokuskan untuk pendinginan,” kata Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Brigjen TNI Djohan Darmawan dalam pernyataannya yang dikutip Holopis.com.
Untuk mengatasi kendala medan berat dan titik api yang tidak terjangkau oleh selang pemadam darat, BNPB mengerahkan armada helikopter untuk memperkuat penanganan dari langit.
“Kendala-kendala kita sudah mendatangkan empat helikopter water bombing untuk menanggulangi sektor-sektor yang tidak bisa disentuh oleh pemadam kebakaran. Jadi kita siram melalui udara,” jelasnya.
Di sektor darat, tim juga membuat akses jalan terobosan di sisi utara dan selatan guna mempermudah pergerakan mobil damkar, serta menyiasati area ketinggian dengan membuat embung-embung penampungan air yang disalurkan melalui 6 hingga 8 lajur selang pemadam, termasuk menyuntikkan cairan kimia khusus agar bara api dapat dikendalikan.
Strategi ofensif dari dua lini ini dinilai sangat efektif untuk mengepung titik api secara masif. Djohan menguraikan bahwa sinkronisasi kerja antara tim darat dan tim udara menjadi kunci utama dalam melakukan pendinginan area.
“Dari bawah ini kita berjalan, dari atas pun disiram juga untuk pendinginan mematikan api ini,” tuturnya.
Berkat koordinasi yang terukur ini, sebaran api di permukaan TPA Jatiwaringin kini sudah berhasil diredam secara bertahap. Meski demikian, tantangan utama di hari ketujuh ini bergeser pada penanganan kepulan asap tebal yang keluar dari bawah gunungan sampah. Berdasarkan deteksi alat geotermal, material di dalam TPA masih menyimpan potensi panas bumi yang tinggi dan memproduksi gas.
“Saat ini api itu di permukaan tidak kelihatan, namun adanya asap yang keluar dari dalam tumpukan sampah. Dimungkinkan di dalamnya itu ada sumber panas karena mengandung gas,” imbuhnya.
Situasi inilah yang membuat tim gabungan terus bersiaga melakukan penyiraman air secara konstan ke zona dalam sampah.
Terkait opsi penanganan jangka panjang melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), BNPB telah berkoordinasi secara berkala dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sejak awal kejadian. Namun, proses rekayasa cuaca hujan buatan tersebut belum dapat dieksekusi lantaran pertumbuhan awan potensial di atas kompleks TPA Jatiwaringin dan sekitarnya terpantau masih sangat minim.
Kendati demikian, BNPB bersama BMKG terus memantau dinamika atmosfer dan menegaskan akan segera mengajukan izin penyemaian awan begitu kondisi meteorologis di wilayah tersebut mulai memenuhi syarat.


