HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kejadian kekeringan melanda sejumlah warga di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DI Yogyakarta. Intensitas hujan yang menurun akibat musim kemarau dan terbatasnya sumber air mengakibatkan kekeringan sejak Rabu (24/6).
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, lokasi terdampak berada di Kapanewon Rongkop, Kalurahan Semugih.
“Tercatat sebanyak 67 KK terdampak. BPBD Kabupaten Gunungkidul berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan asesmen serta pendistribusian air bersih,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Jumat (3/7).
Pemerintah setempat menetapkan status siaga darurat bencana melalui Keputusan Bupati Gunungkidul Nomor 154/KPTS/2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan di Kabupaten Gunungkidul yang berlaku mulai 1 Juni hingga 31 Agustus 2026.
Abdul menyebut bahwa telah dilakukan pendistribusian air bersih sebanyak 16 rit (tangki) kepada warga terdampak.
Kekeringan juga terjadi di Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah di Kabupaten Semarang tidak mengalami hujan sehingga menyebabkan kekeringan di Desa Plumutan dan Desa Bantal, Kecamatan Bancak.
“Sebanyak 586 KK atau 1.224 jiwa terdampak,” ujarnya.
Personel BPBD Kabupaten Semarang melakukan dropping air bersih di Dusun Krajan, Desa Plumutan, sebanyak satu tangki berkapasitas 5.000 liter dan di Dusun Mungkruk, Desa Bantal, sebanyak satu tangki berkapasitas 5.000 liter.
“Saat ini, air bersih masih menjadi kebutuhan mendesak,” imbuhnya.
Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur turut terdampak kekeringan sejak Rabu (1/7). Berdasarkan hasil asesmen BPBD Kabupaten Jember, memasuki musim kemarau Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, mengalami kekeringan sehingga sebagian besar warga kesulitan mendapatkan air bersih.
“Kondisi sumber air terdekat berupa sumur bor yang berjarak sekitar 600 meter dari permukiman warga belum dapat dimanfaatkan karena belum tersedia meteran listrik dan jaringan pipa,” jelasnya.
“Selain itu, sebagian sumur milik warga mengalami penurunan volume air, sedangkan sebagian lainnya menghasilkan air yang keruh bercampur lumpur sehingga tidak dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.
Sebanyak 125 KK terdampak di Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, dan jumlah tersebut masih dalam pendataan. BPBD bersama PMI telah mendistribusikan jerigen, tandon air, dan 9.000 liter air bersih kepada warga terdampak.
Kekeringan juga terjadi di Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku. Sejak Mei hingga Juli 2026, wilayah tersebut memasuki musim kemarau sehingga beberapa kecamatan mengalami dampak signifikan berupa kekeringan.
Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Bula, Bula Barat, Seram Timur, Pulau Gorom, Gorom Timur, Kesui Watubela, dan Teor.
Debit air di wilayah tersebut mengalami penurunan yang cukup drastis. Sumur dan sungai mengering sehingga mengakibatkan warga mengalami kekurangan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebanyak 7.107 KK atau 24.089 jiwa terdampak akibat kejadian ini.
BPBD Kabupaten Seram Bagian Timur menuju lokasi terdampak untuk melakukan identifikasi dan kaji cepat, berkoordinasi dengan aparat pemerintah, serta mendistribusikan tangki air dan air bersih.
Abdul mengimbau seluruh pemerintah daerah dan lapisan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi ancaman kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Masyarakat diminta menggunakan air bersih secara bijak dengan memprioritaskan kebutuhan pokok, seperti memasak dan minum, serta memeriksa instalasi pipa secara berkala untuk menghindari kebocoran. Pemerintah daerah juga diharapkan segera memetakan wilayah rawan kekeringan guna mempercepat distribusi bantuan armada tangki air bersih ke daerah terdampak,” imbaunya.


