HOLOPIS.COM, JAKARTA – Bencana tanah longsor melanda sejumlah pemukiman warga yang ada di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan, kejadian ini dipicu oleh hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Matangnga selama kurang lebih empat jam.
Curah hujan tersebut kemudian menyebabkan kondisi tanah menjadi labil hingga memicu longsor di Desa Katimbang dan Kelurahan Matangnga, Kecamatan Matangnga.
“Akibat kejadian ini, sebanyak 80 KK terdampak. Selain itu, satu fasilitas pendidikan, lahan persawahan seluas kurang lebih 51 hektare, serta satu akses jalan turut mengalami dampak akibat longsoran,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Senin (18/5).
Abdul memastikan BPBD setempat telah mengerahkan Tim Reaksi Cepat untuk melakukan pendataan dan penanganan di lokasi terdampak, sekaligus berkoordinasi dengan instansi terkait guna mendukung upaya penanganan lanjutan.
“Tim gabungan masih berupaya membuka akses jalan yang tertutup material longsor. Di samping itu, rumah warga yang terdampak longsoran juga masih menunggu proses pembersihan material secara paralel,” ujarnya.
Memasuki periode peralihan musim, peningkatan intensitas hujan di berbagai wilayah yang berpotensi memicu terjadinya bencana hidrometeorologi, khususnya banjir dan tanah longsor harus ditingkatkan. Kondisi tanah yang jenuh air di daerah lereng dan perbukitan, ditambah dengan sistem drainase yang kurang optimal, menjadi faktor yang memperbesar risiko terjadinya bencana tersebut.
Abdul mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana diimbau untuk terus memantau informasi cuaca melalui kanal resmi seperti BMKG dan BNPB, menjaga kebersihan saluran air, serta segera melakukan evakuasi mandiri apabila muncul tanda-tanda bahaya seperti retakan tanah, suara gemuruh dari arah lereng, atau kenaikan muka air sungai secara cepat.
“Pemerintah daerah juga didorong untuk memastikan sistem peringatan dini berjalan optimal, menyiapkan jalur evakuasi dan logistik darurat, serta meningkatkan sosialisasi terkait mitigasi bencana kepada masyarakat, khususnya di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi,” pintanya.


