HOLOPIS.COM, DENPASAR – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Bali melalui tim Wildlife Rescue Unit (WRU) mengevakuasi seekor bayi Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) dari Kabupaten Badung pada Senin (20/4/2026).
Bayi primata berjenis kelamin jantan tersebut diperkirakan baru berusia satu bulan dan masih memiliki bulu berwarna coklat keemasan yang merupakan ciri khas fase usia awal.
Satwa dilindungi ini diserahkan secara sukarela oleh seorang warga bernama Wilen yang berdomisili di Jalan Sedap Malam, Kabupaten Badung.
Berdasarkan keterangan pemilik, bayi lutung tersebut diperoleh dari hasil pembelian, meskipun lokasi asal transaksi tersebut tidak disebutkan secara rinci.
Temuan ini mengindikasikan bahwa praktik perdagangan satwa liar ilegal masih terjadi di tengah masyarakat, khususnya terhadap spesies yang dilindungi undang-undang.
Saat ini, bayi lutung tersebut telah dititipkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tabanan untuk mendapatkan perawatan intensif dan observasi kesehatan.
Mengingat usianya yang masih sangat muda dan sudah terpisah dari induknya, satwa tersebut harus menjalani proses rehabilitasi untuk memulihkan kondisi fisik.
Selain pemulihan kesehatan, fokus utama rehabilitasi di PPS Tabanan adalah pengembalian insting liar satwa sebagai bekal sebelum nantinya dilepasliarkan kembali.
Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko, menyatakan bahwa evakuasi ini merupakan bentuk komitmen institusinya dalam merespons cepat setiap laporan dari masyarakat.
Ia juga mengapresiasi meningkatnya kesadaran warga yang mulai berani melaporkan atau menyerahkan satwa dilindungi kepada pihak berwenang secara mandiri.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tidak memelihara satwa liar dilindungi. Apabila menemukan satwa dalam kondisi membutuhkan pertolongan, segera laporkan kepada petugas, agar dapat ditangani dengan tepat. Sinergi antara masyarakat dan pemerintah menjadi kunci dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati,” ujar Ratna Hendratmoko.
Melalui upaya penyelamatan ini, diharapkan Lutung Jawa tersebut dapat tumbuh sehat dan mampu beradaptasi dengan baik saat kembali ke habitat alaminya di masa depan.




