HOLOPIS.COM, JAKARTA – Bayangkan sebuah tempat di mana fosil purba, budaya lokal yang kental, dan pemandangan alam yang instagenik bersatu dalam satu harmoni. Itulah Geopark. Namun, menjaga status bergengsi di mata dunia ternyata tidak semudah mengunggah foto di media sosial.
Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, baru saja membunyikan “peluit” persiapan bagi seluruh pengelola Geopark di Indonesia. Pasalnya, tim validator dari UNESCO Global Geopark (UGGp) akan segera datang untuk melakukan revalidasi besar-besaran di tahun 2026 ini.
Dalam dunia UNESCO, mendapatkan “Green Card” atau Kartu Hijau adalah kasta tertinggi. Ini artinya, pengelolaan sebuah Geopark dinilai sangat memuaskan dan berhak menyandang status internasional selama empat tahun ke depan. Sebaliknya, jika lengah, “Yellow Card” bisa melayang, yang artinya pengelola hanya punya waktu dua tahun untuk berbenah sebelum statusnya dicabut.
“Geopark itu ekosistem yang luar biasa. Di sana kita bicara soal konservasi yang berpadu dengan pendidikan, pemberdayaan warga, hingga pariwisata yang bertanggung jawab,” ujar Menpar Widiyanti dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).
Menurut Menpar, Geopark bukan cuma soal pemandangan cantik untuk latar foto. Destinasi ini mengemban tugas sebagai Laboratorium Alam, yakni tempat bagi kita semua untuk belajar langsung dari sejarah perjalanan Bumi.
Selain itu, Geopark berperan sebagai ATM-nya Rakyat. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan ini menjadi mesin penggerak ekonomi yang sangat nyata bagi warga lokal melalui aktivitas ekowisata dan produk kreatif.
Terakhir, Geopark adalah Wajah Masa Depan. Ini merupakan model wisata berkelanjutan yang mengintegrasikan pelestarian alam dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara seimbang.
Pemerintah Indonesia pun tidak main-main dalam menggarap potensi ini. Melalui target strategis Bappenas, Indonesia diharapkan mampu memiliki total 17 UNESCO Global Geopark pada tahun 2029 mendatang.
Untuk tahun ini, sorotan tajam tertuju pada dua kandidat baru yang sedang berjuang keras mendapatkan pengakuan dunia (Aspiring UGGp).
Pertama adalah Bojonegoro, yang menonjol dengan kekayaan geologi minyak bumi dan struktur tanahnya yang unik. Kedua adalah Ranah Minang Silokek di Sumatera Barat, yang memukau lewat kombinasi keindahan karst purba dan budaya lokal yang sangat eksotis.
Untuk memastikan kemenangan ini, Kemenpar sudah curi start dengan menggelar rapat koordinasi daring pada Kamis (5/3/2026). Tujuannya jelas: menyatukan visi agar pemerintah pusat, daerah, hingga komunitas lokal tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Kita optimistis bisa mempertahankan ‘Green Card’ untuk yang sudah ada, sekaligus menyambut Bojonegoro dan Ranah Minang Silokek ke dalam keluarga besar UNESCO Global Geoparks tahun ini,” tutup Widiyanti.


