“Yang encouraging itu PMI Manufaktur, yang sebelumnya di bawah 50, sekarang growing menjadi 52,4. Kita semua tahu kalau PMI di atas 50 artinya terjadi ekspansi, dan manufaktur itu menjadi penyumbang sangat krusial bagi pertumbuhan kita,” ujar Dradjad.
Dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perkembangan positif.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% pada semester I-2026, sementara inflasi September tercatat 3,28%.
Realisasi investasi sepanjang Januari-September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun, meningkat 7,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tingkat pengangguran terbuka tercatat 4,65%, sedangkan rasio Gini berada di angka 0,368.
Meski demikian, pertumbuhan ekonomi perlu diikuti peningkatan kegiatan usaha dan kesempatan kerja.
Pemerintah juga harus memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Dukungan pembiayaan menjadi salah satu modal penting.
Pada Agustus 2026, kredit perbankan tumbuh 13,65% secara tahunan, sedangkan dana pihak ketiga meningkat 10,94%.
Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp250,43 triliun, sementara bantuan sosial terealisasi Rp115,8 triliun.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027 dan 8% dalam jangka menengah.
Salah satu strategi yang diandalkan adalah hilirisasi industri.
Sebanyak 26 proyek hilirisasi dengan nilai investasi Rp225 triliun diproyeksikan menciptakan sekitar 37.833 lapangan kerja.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...