Puluhan Tahun Menanggung Luka, Penyintas 1965 : Komnas Perempuan Adalah Rumah Kedua Kami

0 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Enam dasawarsa setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI), perjuangan para penyintas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masih menyisakan persoalan tentang pengakuan, keadilan, dan pemulihan.

Di tengah situasi tersebut, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menjadi tempat bagi para perempuan korban untuk mendapatkan dukungan dan menyuarakan pengalaman mereka.

Bagi Uchikowati Fauzia atau akrab disapa Uchi, salah satu penyintas peristiwa 1965 sekaligus Ketua Paduan Suara Dialita, Komnas Perempuan memiliki arti lebih dari sekadar lembaga yang memperjuangkan hak perempuan.

Baginya, lembaga tersebut merupakan rumah kedua bagi para perempuan korban pelanggaran HAM yang selama ini terus berjuang agar pengalaman mereka tidak dilupakan.

“Bagi kami, seperti yang selalu saya ucapkan dan saya akan selalu mengucapkan terus, bahwa Komnas Perempuan adalah rumah kedua bagi kami, para perempuan korban pelanggaran HAM,” ujar Uchi dalam peringatan HUT ke-28 Komnas Perempuan, dikutip Holopis.com, Jumat (16/10).

Uchi turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh komisioner dan badan pekerja Komnas Perempuan atas perhatian serta pendampingan yang diberikan kepada para korban. Menurutnya, keberadaan lembaga tersebut sangat berarti karena perjuangan para penyintas masih menghadapi berbagai tantangan.

Ia mengungkapkan bahwa situasi saat ini membuat dirinya dan para korban merasa tidak nyaman. Bahkan, Uchi mengaku semakin sulit menaruh harapan kepada pemerintah. Meski demikian, ia berharap perjuangan para penyintas tidak berhenti dan tetap mendapat dukungan dari berbagai pihak.

“Kami ingin selalu membersamai Komnas Perempuan, khususnya pada tahun-tahun ini, pada masa-masa ini di mana masa-masa ini adalah masa yang sangat tidak nyaman, tidak menyenangkan bagi kami para korban. Sepertinya kami tidak punya harapan lagi kepada pemerintah yang ada,” katanya.

Meski demikian, Uchi menegaskan para penyintas akan terus berjalan bersama Komnas Perempuan, gerakan masyarakat sipil, dan generasi muda yang menaruh perhatian terhadap kekerasan terhadap perempuan.

Lewat Lagu, Penyintas 1965 Menjaga Ingatan dan Harapan

Uchikowati Holopis
Penyintas 65 sekaligus ketua paduan suara Dialita, Uchikowati Fauzia. [Foto: Tangkapan layar]

Pengalaman Uchi tidak terlepas dari dampak peristiwa politik 1965. Ia adalah putri Bupati Cilacap tahun 1958-1965. Saat berusia 13 tahun, kedua orang tuanya ditangkap pada November 1965. Setelah itu, ia harus tinggal bersama nenek dan kerabatnya di Kroya, Cilacap, Jawa Tengah, untuk bertahan hidup di tengah stigma politik masa itu.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sebagai generasi kedua penyintas yang merasakan dampak penangkapan anggota keluarga setelah peristiwa 1965. Seperti keluarga korban lainnya, mereka menghadapi perubahan kehidupan yang tidak mudah setelah peristiwa tersebut.

Uchi kemudian menjadi bagian dari perjuangan melalui Paduan Suara Dialita, kelompok yang menjadi ruang bagi perempuan penyintas dan keluarga korban peristiwa 1965 untuk menyampaikan pengalaman mereka melalui musik.

Nama Dialita merupakan singkatan dari Di Atas Lima Puluh Tahun. Kelompok ini terbentuk pada 2011 dan membawakan lagu-lagu yang berkaitan dengan pengalaman para tahanan politik serta keluarga mereka.

Melalui musik, Dialita berupaya merawat ingatan sejarah sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami pengalaman para korban. Lagu-lagu yang mereka bawakan menjadi sarana untuk menyampaikan kisah yang selama bertahun-tahun sulit dibicarakan secara terbuka.

Kegiatan bermusik juga menjadi ruang bagi para penyintas untuk saling menguatkan dan menjaga hubungan antarsesama. Melalui penampilan mereka, Dialita berupaya memperkenalkan pengalaman korban kepada generasi muda agar ingatan tentang pelanggaran HAM masa lalu tidak terputus.

Bagi Uchi, perjuangan merawat ingatan tersebut perlu berjalan beriringan dengan upaya menghapus kekerasan terhadap perempuan yang masih terjadi hingga sekarang. Ia berharap pengalaman para korban masa lalu dapat menjadi pengingat pentingnya perlindungan terhadap perempuan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Solidaritas Perempuan, Harapan yang Tak Boleh Padam

Dalam peringatan HUT ke-28 Komnas Perempuan, Uchi juga menekankan pentingnya solidaritas antarsesama perempuan. Ia meyakini perempuan memiliki kemampuan untuk menjadi penggerak perubahan, terutama dalam memperjuangkan keadilan dan melawan kekerasan.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Vhina Noviyanti
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Muhammad Ibnu Idris
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKMIklan: Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--
YANG BARU