Semakin banyak bubuk matcha yang digunakan, semakin besar pula potensi kafein yang dikonsumsi.
Artinya, dua gelas matcha yang dibuat dengan takaran berbeda bisa memberikan asupan kafein yang tidak sama.
Karena itu, pencinta minuman ini perlu memperhatikan jumlah bubuk yang digunakan, terutama jika memiliki sensitivitas terhadap kafein.
Jika dibandingkan berdasarkan takaran sajian, kopi umumnya mengandung kafein lebih tinggi daripada matcha ceremonial.
Secangkir kopi berukuran sekitar 237 mililiter atau 8 ons dapat mengandung sekitar 95–200 miligram kafein.
Sementara itu, satu sajian matcha ceremonial umumnya memiliki kandungan sekitar 30–60 miligram.
Perbedaan tersebut membuat matcha bisa menjadi pilihan bagi mereka yang ingin mengurangi konsumsi kafein tanpa harus sepenuhnya meninggalkan minuman yang membantu menunjang aktivitas.
Meski begitu, angka tersebut bukan patokan mutlak untuk semua produk.
Kandungan kafein bisa berubah bergantung pada jenis bahan, konsentrasi seduhan, dan ukuran sajian.
Matcha juga berbeda dari teh hijau biasa karena dibuat dari daun teh hijau yang digiling menjadi bubuk halus sehingga seluruh bubuknya ikut dikonsumsi.
Sementara itu, teh hijau biasa umumnya diseduh menggunakan daun teh yang kemudian dipisahkan dari air seduhannya.
Secangkir teh hijau biasa diperkirakan mengandung sekitar 30–50 miligram kafein.
Bukan hanya kafein, matcha juga mengandung L-theanine, yaitu asam amino yang berpotensi mendukung perhatian dan kewaspadaan.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...