HOLOPIS.COM, JAKARTA – Dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) masih dirasakan sejumlah penumpang meski sejumlah bandar udara (bandara) yang sebelumnya terdampak kini telah kembali beroperasi pada Selasa (8/9) pukul 00.00 WIB. Di antaranya Salmaa, penumpang salah satu maskapai yang penerbangannya dari Medan menuju Jakarta pada Senin (7/9) pukul 05.00 WIB dibatalkan.
Salmaa mengatakan dirinya mengetahui pembatalan penerbangan tersebut melalui pemberitaan dan unggahan dari akun resmi pihak maskapai. Ia mengaku tidak menerima pemberitahuan secara langsung sebelum mengetahui penerbangannya dibatalkan.
“Iya, mereka gak ada kabar sama sekali. Aku dapat info cancel (pembatalan) juga karena berita dan post (unggahan) Thread,” ujar Salmaa saat dihubungi Holopis.com, Senin (7/9).
Pembatalan tersebut membuat Salmaa belum dapat melanjutkan perjalanan ke Jakarta sesuai jadwal. Ia juga mengaku kesulitan mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai penerbangan pengganti karena pihak maskapai sulit dihubungi setelah penerbangannya dibatalkan.
“Komunikasi mereka buruk banget. Gak bisa dihubungi,” katanya.
Salmaa yang masih berada di Medan kemudian memilih mendatangi bandara untuk mencari informasi secara langsung. Ia berencana menemui pihak maskapai guna mengetahui kepastian perjalanan selanjutnya.
“Aku mau ke bandara buat ketemu langsung,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengganggu operasional penerbangan di sejumlah bandara, termasuk penerbangan dari dan menuju Jakarta. Gangguan tersebut berdampak terhadap 2.961 penerbangan, yang terdiri dari 2.339 penerbangan domestik dan 622 internasional. Selain itu, sebanyak 341.000 penumpang turut terdampak akibat kondisi tersebut.
Penutupan bandara dilakukan karena keberadaan abu vulkanik di udara dapat mengganggu keselamatan penerbangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berada pada sejumlah lapisan ketinggian. Pada lapisan permukaan hingga 15.000 kaki, abu bergerak ke arah tenggara hingga barat laut dan mencakup sebagian sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten dan perairan di sekitarnya.
Sementara itu, pada ketinggian hingga 50.000 kaki, sebaran abu terpantau meluas hingga Samudra Hindia di sebelah barat sampai barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena ketinggian sebaran abu dapat beririsan dengan ruang udara yang digunakan pesawat.
BMKG menyebut sebaran abu vulkanik di udara berdampak langsung terhadap keselamatan penerbangan. Hasil paper test yang dilakukan pada sejumlah bandara juga mengonfirmasi adanya indikasi abu vulkanik.
Berdasarkan kondisi tersebut, AirNav Indonesia menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) yang menginstruksikan penutupan sementara sejumlah bandara pada Minggu (6/9) sejak pukul 01.30 WIB. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai langkah keselamatan untuk mencegah pesawat beroperasi ketika kondisi udara dan lingkungan bandara belum dinyatakan aman.
“Ini merupakan langkah mitigasi untuk mendukung keselamatan penerbangan dengan mempertimbangkan kondisi sebaran abu vulkanik di ruang udara,” kata kata EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia Hermana Soegijantoro dalam keterangan resminya.
Meski sejumlah bandara telah kembali beroperasi pada Selasa (8/9) pukul 00.00 WIB, setelah hasil paper test abu vulkanik dinyatakan negatif. Aktivitas Gunung Anak Krakatau terpantau kembali mengalami erupsi pada Selasa (8/9) pagi.




