HOLOPIS.COM, JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat kembali menjadi perhatian. Meski episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam telah berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) masih dipantau dan statusnya tetap berada pada level III atau siaga.
Dilansir dari siaran pers pada Minggu (6/9), kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati, mengatakan bahwa kemungkinan terjadinya letusan dalam beberapa periode ke depan masih tinggi. Masyarakat di sekitar wilayah terdampak pun diminta tetap mengikuti informasi resmi dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.
“Meskipun episode erupsi menerus telah berakhir, dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau masih aktif. Potensi letusan susulan dalam beberapa waktu ke depan masih tergolong tinggi dengan potensi bahaya berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta kemungkinan aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi,” kata Siti Sumilah, dikutip Holopis.com, Selasa (8/9/2026).
Dengan potensi erupsi susulan yang masih ada, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat untuk menyiapkan langkah antisipasi sejak dini. Salah satunya dengan menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) berisi kebutuhan penting yang dapat langsung dibawa ketika warga harus meninggalkan rumah dan menuju tempat aman. Namun, tas siaga bukan sekadar tas yang diisi sebanyak mungkin barang. Isinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan setiap anggota keluarga agar barang yang dibawa benar-benar berguna saat keadaan darurat.
“Kita tidak bisa memprediksi kapan bencana akan terjadi. Namun, kita bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi darurat yang mungkin terjadi kapan saja. Salah satunya dengan menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB),” tulis BNPB dalam akun Instagram resminya @bnpb_indonesia.
1. Tas Siaga untuk Kebutuhan Dasar
BNPB menjelaskan TSB sebagai tas tahan air yang disiapkan untuk membantu anggota keluarga bertahan ketika bantuan belum datang sekaligus memudahkan proses evakuasi. BNPB merekomendasikan kebutuhan dasar untuk sekitar 72 jam atau tiga hari.
Beberapa kebutuhan dasar yang dapat disiapkan antara lain air minum, makanan tahan lama, pakaian, masker, obat-obatan dan perlengkapan P3K, alat penerangan, ponsel beserta pengisi daya atau power bank, uang tunai, peluit, perlengkapan mandi, serta dokumen penting.
Namun, daftar tersebut dapat dikembangkan sesuai kondisi keluarga. Keluarga yang memiliki anak kecil, misalnya, perlu menambahkan kebutuhan khusus anak seperti makanan yang biasa dikonsumsi, pakaian tambahan, popok, tisu, atau perlengkapan lain yang sulit diperoleh ketika harus meninggalkan rumah.
Hal serupa berlaku bagi keluarga yang memiliki anggota lanjut usia. Obat-obatan yang rutin dikonsumsi serta alat bantu tertentu perlu menjadi bagian dari tas agar tidak tertinggal ketika evakuasi dilakukan.
2. Pilih Barang yang Benar-Benar Dibutuhkan
Tas siaga juga perlu dibuat dengan mempertimbangkan kemampuan anggota keluarga untuk membawanya. Terlalu banyak barang justru dapat menyulitkan seseorang ketika harus berjalan menuju titik evakuasi.
Barang yang diprioritaskan sebaiknya memiliki fungsi jelas, mudah digunakan, dan dapat membantu kebutuhan dasar selama kondisi darurat. Ponsel dan power bank, misalnya, dapat digunakan untuk komunikasi sekaligus memperoleh informasi terbaru dari pemerintah atau petugas kebencanaan.




