Hingga 19 Agustus 2026, implementasi B50 telah mencakup 120 terminal BBM di seluruh Indonesia.
Pertamina juga masih memantau pola suplai dan distribusi dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Tantangannya tidak kecil karena Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan karakteristik geografis yang berbeda.
“Untuk proses suplai dari satu terminal ke terminal yang lain, dari satu titik ke titik yang lain, ini membutuhkan tingkat perencanaan dan realisasi yang harus tepat dan akurat agar masyarakat bisa memperoleh tepat waktu untuk kebutuhan bahan bakarnya,” imbuh Hari.
40 Titik Serah FAME Disiapkan
Pertamina Patra Niaga saat ini telah menyiapkan 40 titik serah FAME. Kapasitas aman penyimpanan atau safe capacity storage terminal eksisting mencapai 271.691 kiloliter.
Kapasitas tersebut masih terus ditingkatkan, termasuk untuk fasilitas penyimpanan, penerimaan FAME serta kesiapan armada kapal dan mobil tangki.
Dengan komposisi 50 persen FAME dan 50 persen solar, kebutuhan harian secara ekuivalen mencapai sekitar 36,7 ribu kiloliter FAME dan 36,7 ribu kiloliter solar.
“Kami koordinasi intens, baik itu dengan pemerintah khususnya dirjen Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) dan BUBBN,” imbuhnya.
B50 Diklaim Bisa Tekan Impor Solar
Pemerintah menempatkan program mandatori biodiesel B50 sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Program ini diharapkan memberi sejumlah manfaat, mulai dari mengurangi impor solar, menghemat devisa, meningkatkan serapan crude palm oil (CPO), membuka lapangan kerja hingga menekan emisi gas rumah kaca.
Hari menilai B50 menjadi bagian penting dalam upaya Indonesia memenuhi kebutuhan solar secara mandiri.
“B50 jauh lebih bermanfaat untuk negara kita dalam memastikan kita bisa mencukupi produk gas oil kita, khususnya solar secara mandiri. Jadi dengan kita implementasi ini, sampai hari ini kita masih terus menjaga, kita tidak melakukan impor produk solar,” kata Hari.
Sementara itu, Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Hamdan Hamedan, menyebut penerapan B50 merupakan hasil dari perjalanan panjang pengembangan biodiesel di Indonesia.
Menurut Hamdan, pengembangan tersebut telah berlangsung selama 18 tahun hingga Indonesia sampai pada tahap implementasi B50.
Ia mengatakan ketahanan energi merupakan bagian dari upaya Presiden Prabowo Subianto memperkuat ketahanan nasional. Langkah tersebut mencakup peningkatan produksi energi, penguatan kapasitas kilang, pemanfaatan bahan bakar nabati dan percepatan pengembangan energi terbarukan.
” B50 adalah sebuah perjalanan panjang selama 18 tahun sampai ke titik ini, dan bagaimana Pertamina mengakselerasi ini adalah bentuk keberanian dalam mengambil keputusan yang menentukan bahwa Indonesia bisa mandiri energi,” kata Hamdan.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...