HOLOPIS.COM, NAGEKEO — Gempa yang mengguncang Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggalkan kerusakan yang tidak hanya terlihat pada rumah warga. Salah satu ruang belajar yang selama ini menjadi tempat anak-anak membaca, belajar, dan mengenal teknologi ikut terdampak.
Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Nagekeo mengalami kerusakan cukup parah. Berdasarkan pemeriksaan tim teknis Kementerian PUPR, bangunan tersebut mendapat label merah sehingga untuk sementara tidak bisa digunakan.
Bagi anak-anak Nagekeo, kondisi itu terasa berbeda. Perpustakaan tersebut selama ini bukan sekadar gedung dengan rak buku, tetapi menjadi tempat mereka berkumpul dan mencari pengetahuan.
Kini, muncul harapan agar pemerintah bisa membantu membangun kembali fasilitas yang mereka kenal sebagai “rumah peradaban”.
Anak-anak Bingung Harus Belajar di Mana
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Nagekeo, Seri Babo Nuwa, mengatakan anak-anak sempat menunjukkan kesedihan ketika mengetahui perpustakaan tidak lagi bisa digunakan.
Ia masih mengingat reaksi mereka setelah gedung tersebut terdampak gempa.
“Setelah gedung ini diresmikan, banyak anak-anak datang kunjung. Nah ini mereka, ada yang menangis, aduh kami baca dimana lagi. Karena di sini pusat pengetahuan, pusat informasi, dan pusat inovasi,” cerita Seri Babo Nuwa di lokasi, Rabu (26/8/2026).
Menurut Seri, perpustakaan tersebut sejak awal memang tidak hanya dirancang sebagai tempat menyimpan buku. Gedung yang dibangun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) pada 2021 itu dikembangkan sebagai ruang bersama.
Anak-anak mulai dari jenjang TK, SD, SMP hingga masyarakat umum dapat memanfaatkannya.
“Konsep kantor kita ini adalah rumah peradaban dan laboratorium sumber daya manusia. Sehingga ketika kantor ini jadi banyak aktivitas baik itu dari anak-anak TK, SD, SMP sampai masyarakat,” ujarnya.
Bukan Cuma Buku, Ada Fasilitas Digital
Aktivitas di perpustakaan tersebut juga tidak berhenti pada kegiatan membaca buku.
Fasilitas multimedia yang tersedia membuat anak-anak bisa mengakses informasi dan mengenal berbagai teknologi digital. Sejumlah kegiatan pengembangan sumber daya manusia juga digelar di tempat tersebut.
“Kemudian ada kegiatan inklusi. Ini kami istilahkan semacam hub di Nagekeo,” lanjut Seri.
Karena itu, kerusakan gedung turut memengaruhi aktivitas masyarakat yang selama ini menggunakan fasilitas tersebut.
Seri mengatakan dirinya langsung menuju lokasi setelah mendapat kabar mengenai kondisi gedung saat gempa terjadi.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...