Sebelumnya, sang anak masih sering harus diingatkan, bahkan dimarahi, agar melaksanakan salat.
Setelah mengikuti pembiasaan di Sekolah Rakyat, anak tersebut mulai menjalankan salat lima waktu dengan lebih teratur. Kebiasaan itu tetap dilakukan ketika berada di rumah, termasuk saat libur sekolah.
Cerita tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pendidikan karakter tidak selalu berlangsung melalui materi pelajaran di kelas.
Kebiasaan disiplin, sopan santun, menjaga kerapian, bersosialisasi, hingga menjalankan ibadah dibangun melalui aktivitas sehari-hari.
Sekolah Rakyat Tak Hanya Mengejar Akademik
Bagi Ima, pendidikan di Sekolah Rakyat memang tidak semata-mata soal kemampuan akademik.
Sekolah juga menjadi ruang bagi siswa untuk belajar mengelola diri dan membangun karakter yang nantinya dibutuhkan ketika mereka menjalani kehidupan di luar sekolah.
“Di Sekolah Rakyat ini kita tidak hanya berfokus di akademik. Kita juga berfokus di karakter,” tuturnya.
Menurutnya, proses perubahan setiap anak tentu tidak selalu berlangsung dengan cara dan kecepatan yang sama.
Namun, perubahan kecil yang muncul dari kebiasaan sehari-hari tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka.
Ima berharap Sekolah Rakyat dapat terus menjadi ruang pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak-anak dari keluarga rentan untuk memperoleh pendidikan berkualitas.
Ia juga berharap para siswa bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, mandiri, dan memiliki bekal untuk mengejar cita-cita.
Bagi para pendidik, perubahan dari hal kecil seperti lebih disiplin, lebih rapi, mampu berteman dengan lebih banyak orang, hingga memiliki kebiasaan positif di rumah bisa menjadi langkah awal menuju perubahan yang lebih besar.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...