KKI juga tidak menutup kemungkinan jumlah pihak yang diperiksa akan bertambah apabila ditemukan keterlibatan tenaga kesehatan lain selama proses investigasi berlangsung.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi dunia kesehatan.
Di era media sosial, satu komentar yang ditulis dalam hitungan detik dapat menghancurkan kepercayaan publik yang dibangun profesi kedokteran selama bertahun-tahun.
PB IDI berharap polemik ini menjadi momentum evaluasi bagi seluruh dokter di Indonesia.
Profesionalisme bukan hanya tercermin dari kemampuan mengobati pasien, tetapi juga dari cara menghormati mereka sebagai manusia.
Sebab, bagi pasien yang sedang berjuang melawan penyakit, empati sering kali sama berharganya dengan tindakan medis itu sendiri.


